Gelombang panas yang melanda Eropa Barat masih terus dirasakan. Belanda mencatat lebih dari 900 kematian pada akhir Juni dan awal Juli karena suhu panas yang ekstrem.
"Penyebab kematian ini belum diketahui pasti, namun sangat besar kemungkinan bahwa faktor cuaca panas turut berperan," kata Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan (RIVM) dalam sebuah pernyataan dilansir AFP, Kamis (16/7/2026).
Lembaga tersebut menyatakan bahwa negara itu mencatat 911 kematian lebih banyak daripada jumlah yang biasanya terjadi pada periode 22 Juni hingga 5 Juli.
Lansia berusia 80 tahun ke atas menjadi kelompok yang terdampak paling parah, begitu pula dengan warga yang tinggal di wilayah selatan dan timur. Suhu udara mencapai titik tertinggi mendekati 40 derajat Celsius di beberapa area.
Serangkaian gelombang panas yang melanda Eropa baru-baru ini telah memecahkan rekor suhu dan menyebabkan ribuan kematian berlebih di sejumlah negara, termasuk Belgia, Inggris, Prancis, dan Spanyol.
Kelompok ilmuwan dari World Weather Attribution mengatakan, gelombang panas yang terjadi pada bulan Juni ini dinilai 'hampir mustahil terjadi' tanpa adanya andil dari perubahan iklim.
Sebelumnya, Prancis juga melaporkan sedang berjuang memadamkan dua kebakaran hutan yang menghanguskan sekitar 1.300 hektare area hutan bersejarah di sebelah selatan Paris pada Senin (13/7) waktu setempat. Sedikitnya dua orang telah ditangkap Kepolisian Prancis terkait dugaan aksi pembakaran yang memicu kebakaran hutan tersebut.
Kebakaran hutan tersebut, seperti dilansir AFP, Selasa (14/7/2026), mulai terjadi pada Minggu (12/7) waktu setempat di area hutan Fontainebleau yang luas, yang merupakan bekas area perburuan era kerajaan yang kini dihiasi desa-desa yang tenang. Hutan itu terletak sekitar 60 kilometer di sebelah tenggara Paris.
Di tengah gelombang panas yang menyelimuti kawasan itu, kebakaran hutan -- yang tergolong jarang di wilayah utara Prancis -- meluas dengan cepat di area yang merupakan cagar biosfer UNESCO tersebut. Bencana ini mengganggu layanan kereta api dan lalu lintas di jalan raya saat liburan akhir pekan yang ramai.
Sepanjang hari, pesawat pemadam kebakaran dan para petugas pemadam berupaya keras memadamkan kobaran api.
Komandan operasi penyelamatan, Jean-Marc Sicard, mengatakan bahwa 187 penyiraman air dari udara telah dilakukan, dengan sekitar 600 petugas pemadam kebakaran masih bertugas dan akan bekerja secara bergantian untuk memadamkan api.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengatakan bahwa hingga Senin (13/7) sore, kobaran api telah merambat hingga mencakup area seluas hampir 1.200 hektare. Dia menyebut kebakaran kedua terjadi pada Senin (13/7) sore, dan telah menghanguskan sekitar 100 hektare lahan.
Sebanyak 1.000 orang yang ada di dalam dan di sekitar hutan Fontainebleau telah dievakuasi.
(wnv/wnv)