Korea Utara (Korut) murka dan mengecam keras komentar seorang jenderal militer Amerika Serikat (AS) yang menggambarkan Korea Selatan (Korsel) sebagai "belati di jantung Asia". Pyongyang menilai komentar semacam itu mencerminkan strategi Washington untuk membendung China, sekutu Korut.
Komentar yang membuat Korut murka itu, seperti dilansir AFP, Rabu (3/6/2026), disampaikan oleh komandan Pasukan AS di Korsel (USFK), Jenderal Xavier Brunson, dalam sebuah wawancara. Brunson juga menjabat sebagai komandan dari Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komando Pasukan Gabungan AS-Korsel.
Komentar Brunson itu mencuat di tengah spekulasi yang berkembang soal AS berupaya memperluas peran USFK dalam melawan pengaruh regional China. Sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan di wilayah Korsel untuk membantu menjaga negara sekutunya itu dari ancaman Korut yang bersenjata nuklir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA), mempublikasikan komentar dari seorang analis bernama Kim Myong Chol, yang mengatakan bahwa pernyataan Brunson menunjukkan AS sebagai "pemimpin klan yang mengganggu perdamaian dan kekaisaran perang terburuk di dunia".
Baca juga: Tanpa China, Bisakah Ekonomi Korut Bertahan? |
Analis Kim Myong Chol yang berbasis di Jepang ini, dianggap sebagai juru bicara luar negeri tidak resmi untuk otoritas Korut.
Komentar Brunson, menurut analis Kim, mencerminkan bagaimana Washington bermaksud menggunakan Korsel sebagai "instrumen geopolitik penting untuk mewujudkan strategi regionalnya yang bertujuan untuk membendung China".
Selama beberapa dekade, China menjadi mitra dagang utama Korut, juga menjadi sumber utama dukungan diplomatik dan ekonomi bagi negara terisolasi itu.
Kantor kepresidenan Korsel, menanggapi komentar Brunson, mengatakan pada akhir pekan bahwa pihaknya mengetahui pernyataan jenderal militer AS tersebut dan telah "menjaga komunikasi di berbagai tingkatan mengenai semua isu terkait".
Laporan media-media lokal Korsel, termasuk News1 dan JTBC, menyebut bahwa Seoul telah menyampaikan kekhawatiran kepada Washington terkait komentar semacam itu.
Jenderal Brunson, dalam wawancara yang memicu kehebohan itu, mengatakan bahwa: "Ketika (orang China) melihat dari pantai timur China, yang mereka lihat adalah Korea, belati di jantung Asia."
Menurut transkrip yang diposting Institut Studi Strategis dari US Army War College, Brunson juga menggambarkan Jepang sebagai "perisai yang berfungsi sebagai penahan" terhadap ambisi regional Beijing.
Pekan lalu, Kedutaan Besar China di Seoul mengutuk keras komentar Brunson tersebut, yang dinilai "benar-benar melampaui batas" dan "penuh dengan permusuhan dan agresi terhadap China". Otoritas Beijing mempertanyakan apakah pernyataan semacam itu mendapat izin dari otoritas Washington.
Lihat juga Video: Presiden Korsel Pertimbangkan Patuhi Surat Penangkapan Netanyahu











































