AS-Iran Masih Saling Serang Saat Kesepakatan Damai Belum Ada Titik Terang

AS-Iran Masih Saling Serang Saat Kesepakatan Damai Belum Ada Titik Terang

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 01 Jun 2026 22:10 WIB
Bendera AS dan Iran.
Bendera AS dan Iran. (Getty Images/AFP)
Jakarta -

Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran belum benar-benar terlihat ujungnya. Kedua pihak masih saling serang kala kesepakatan damai belum menemui titik terang.

Perang AS dan Iran pecah sejak 28 Februari 2026. Perang bermula saat AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke infrastruktur milter Iran hingga meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Tiga bulan sudah aksi saling serang berlangsung. Padahal upaya penyelesaian perang ini sudah dimulai dilakukan lewat perundingan damai tingkat tinggi di Islamaabad, Pakistan pada Sabtu (11/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rangkaian gencatan senjata sempat dilakukan. Negosiasi damai berkali-kali dilanjutkan namun hingga hari ini belum dicapai kesepakatan bersama.

Alotnya Negosiasi Damai

Negosiasi tidak berjalan mudah. Kedua pihak kukuh dengan masing-masing tawaran yang diajukan.

Proses negosiasi yang sudah berjalan lebih dari sebulan, diwarnai diplomasi keras, saling ancam, hingga baku serang yang tak terelakkan.

Perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa AS tidak dapat dipercaya. Ghalibaf mengatakan Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington sampai hak-hak rakyat Iran sepenuhnya dijamin.

"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Ghalibaf dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Senin (1/6/2026).

Ghalibaf, yang juga menjabat ketua parlemen Iran ini, menambahkan bahwa para negosiator Iran "tidak mempercayai kata-kata musuh maupun janji-janjinya".

Pernyataan itu disampaikan setelah laporan media-media AS, seperti New York Times (NYT) dan Axios, pada Sabtu (30/5) menyebut Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan versi revisi dari kerangka kerja perdamaian yang diusulkan, yang berisi persyaratan yang "lebih keras", untuk dipertimbangkan oleh Iran.

Detail mengenai perubahan yang dilakukan Trump pada draf kesepakatan yang diusulkan itu tidak diketahui secara jelas. Iran memandang pencabutan sanksi dan pelepasan asetnya yang dibekukan di bank-bank di luar negeri sebagai salah dua dari sejumlah hak utamanya yang harus dijamin dalam kesepakatan apa pun dengan AS.

Teheran menegaskan bahwa pihaknya membutuhkan pelepasan aset-asetnya yang dibekukan, diperkirakan senilai US$ 12 miliar (Rp 214 triliun), sebelum terlibat dalam pembicaraan substantif tentang program nuklirnya.

Sementara itu, Trump mengatakan prioritasnya termasuk menghentikan Iran dari pengembangan senjata nuklir apa pun dan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup oleh Iran sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (1/6), Trump menyampaikan penegasan itu dalam pernyataan terbaru via akun media sosial Truth Social miliknya pada Minggu (31/5) waktu setempat. Trump menegaskan kesepakatan yang diusulkan "menyatakan, dengan sangat jelas, bahwa Iran tidak akan memiliki Senjata Nuklir".

Pernyataan Trump ini tampaknya merespons laporan media terkemuka AS, CNN, yang menyebut kerangka kerja dalam kesepakatan yang diusulkan tidak membahas isu-isu nuklir secara memadai -- karakterisasi yang sangat dia tolak.

"Kemudian dilanjutkan, dengan sangat detail dan panjang lebar, untuk membahas berbagai aspek-aspek lainnya dari nuklir. Bahkan, itulah sebagian besar isi perjanjian tersebut," sebut Trump dalam pernyataannya.

Dia juga mengkritik beberapa media, yang dituduhnya telah salah mengartikan isi perjanjian yang diusulkan. Trump telah berulang kali mengatakan bahwa setiap kesepahaman di masa depan dengan Teheran, harus mencakup jaminan yang mencegah Iran mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir.

AS Vs Iran Masih Saling Serang

Komando Pusat AS atau CENTCOM mengumumkan telah menyerang lokasi radar dan pusat komando drone Iran yang ada di area Goruk dan Pulau Qeshm. Diklaim oleh Washington bahwa serangan terbarunya itu merupakan "serangan pertahanan diri".

"Komando Pusat AS melancarkan serangan pertahanan diri terhadap lokasi radar dan komando serta kendali drone Iran di Goruk, Iran, dan Pulau Qeshm pada akhir pekan ini," kata CENTCOM dalam pernyataannya via media sosial X pada Minggu (31/5) malam.

CENTCOM menyebut serangan tersebut merespons ditembak jatuhnya drone MQ-1 milik AS oleh pasukan Iran. Menurut CENTCOM, jet tempur AS merespons "dengan cepat" setelah insiden tersebut, dengan menargetkan dan menghancurkan sistem pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan dua drone serangan satu arah yang dianggap memberikan "ancaman nyata" bagi kapal-kapal yang melintasi perairan regional.

"Serangan yang terukur dan disengaja ini terjadi pada Sabtu (30/5) dan Minggu (31/5) sebagai respons atas tindakan agresif Iran yang mencakup menembak jatuh drone MQ-1 AS yang beroperasi di atas perairan internasional," sebut CENTCOM.

CENTCOM menyatakan tidak ada personel militer Amerika yang terluka. CENTCOM menegaskan pihaknya tetap berkomitmen melindungi aset-aset dan kepentingan AS di seluruh kawasan "sebagai respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan selama gencatan senjata yang sedang berlangsung".

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pasukannya telah menargetkan sebuah pangkalan udara AS yang digunakan untuk menyerang wilayah Iran pada Senin (1/6) pagi. IRGC mengklaim semua target yang ditetapkan telah dihancurkan dalam serangan pembalasan tersebut.

Seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, lokasi pangkalan udara AS yang menjadi target serangan tidak disebutkan secara spesifik oleh IRGC dalam pernyataannya, yang disiarkan televisi IRIB dan media pemerintah Iran lainnya.

Namun pernyataan IRGC ini dirilis setelah militer Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat "serangan rudal dan drone musuh". AS diketahui memiliki pangkalan militer di berbagai negara Teluk, termasuk Kuwait.

IRGC, dalam pernyataannya yang dikutip kantor berita Mehr News Agency, mengatakan bahwa Angkatan Udara mereka telah menargetkan dan menghancurkan pangkalan yang menjadi tempat pasukan AS melancarkan operasi terhadap fasilitas komunikasi di Pulau Sirik, Provinsi Hormozgan bagian selatan.

Pulau Sirik terletak di dekat Selat Hormuz yang strategis, yang terdampak perang yang berkecamuk antara Iran melawan AS dan Israel sejak akhir Februari.

Disebutkan IRGC dalam pernyataannya bahwa serangannya dilancarkan beberapa jam setelah serangan AS tersebut.

Halaman 2 dari 3
(jbr/rfs)


Berita Terkait