Trump Klaim Iran Ingin Capai Deal dengan AS, Yakin Akan Terwujud

Trump Klaim Iran Ingin Capai Deal dengan AS, Yakin Akan Terwujud

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 01 Jun 2026 16:19 WIB
Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/MANDEL NGAN)
Presiden AS Donald Trump (dok. AFP/MANDEL NGAN)
Washington DC -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Iran sedang berupaya mencapai kesepakatan dengan AS. Trump menyatakan keyakinannya bahwa negosiasi yang sedang berlangsung akan membuahkan hasil yang menguntungkan.

Dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (1/6/2026), Trump mengklaim bahwa Teheran "benar-benar ingin membuat kesepakatan" dengan Washington.

Dia menggambarkan potensi kesepakatan antara kedua negara sebagai kesepakatan yang akan "baik untuk AS" dan mitra-mitranya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan, dan itu akan menjadi kesepakatan yang baik bagi AS dan mereka yang bersama kita," kata Trump dalam pernyataannya via Truth Social pada Senin (1/6) dini hari waktu AS.

Trump kemudian mengkritik para lawan politiknya dan beberapa anggota partainya sendiri, Partai Republik, yang disebutnya "tidak patriotik".

Dia mengatakan bahwa negosiasi menjadi "jauh lebih sulit" ketika "para politisi oportunis terus menerus 'berceloteh' secara negatif", termasuk menyerukan pendekatan yang berbeda, menuntut untuk bergerak lebih cepat atau lebih lambat, melakukan tindakan militer atau menghindarinya.

Trump menyebut kritikan terhadap dirinya kini terjadi pada tingkat "yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Dia lantas menyerukan agar para pengkritiknya tetap bersabar saat negosiasi terus berlanjut. "Tenang saja, semuanya akan berjalan dengan dengan baik pada akhirnya -- Selalu begitu!" ucap Presiden AS itu.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Teheran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Sebagian besar serangan terhenti sejak gencatan senjata diberlakukan pada awal April lalu, yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump. Sementara itu, upaya perdamaian untuk mengakhiri perang terus dilakukan para mediator, terutama Pakistan, namun sejauh ini belum membuahkan hasil konkret.

Perkembangan terbaru, berdasarkan laporan media-media Barat, seperti New York Times (NYT) dan Axios, menyebutkan bahwa Trump telah mengirimkan versi revisi dari kerangka kerja perdamaian yang diusulkan, yang berisi persyaratan yang "lebih keras", untuk dipertimbangkan oleh Iran.

Detail mengenai perubahan yang dilakukan Trump pada draf kesepakatan yang diusulkan itu tidak diketahui secara jelas. Namun setiap perubahan pada draf yang diusulkan dapat semakin menunda kesepakatan untuk secara resmi mengakhiri perang.

Trump telah mengatakan bahwa prioritasnya termasuk menghentikan Iran dari pengembangan senjata nuklir dan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup oleh Iran sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Namun perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington sampai hak-hak rakyat Iran sepenuhnya dijamin.

Simak juga Video: Iran: Negosiasi Damai Terhambat karena AS Plin-plan!

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Berita Terkait