Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa kedua negara seharusnya menjadi "mitra dan bukan rival", saat keduanya bertemu di Beijing. Survei global terbaru menunjukkan Israel menjadi negara yang paling tidak disukai di dunia.
Trump, dalam pernyataan balasan kepada Xi, mengatakan bahwa AS dan China akan memiliki "masa depan yang fantastis bersama".
Sementara itu, survei terbaru yang dirilis Nira Data, sebagai bagian dari penelitian persepsi demokrasi dan negara tahun 2026, menunjukkan bahwa Israel saat ini dipandang lebih negatif dibanding negara-negara lainnya di dunia, disusul oleh Korea Utara (Korut), Afghanistan, dan Iran.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (14/5/2026):
- Bertemu Trump, Xi Jinping Bilang China-AS Harus Jadi Mitra Bukan Rival
Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa kedua negara seharusnya menjadi "mitra dan bukan rival", saat mereka bertemu untuk pembicaraan penting di Beijing pada Kamis (14/5) waktu setempat.
Trump, dalam pernyataan balasan kepada Xi, mengatakan bahwa AS dan China akan memiliki "masa depan yang fantastis bersama".
Pembicaraan kedua pemimpin, seperti dilansir AFP, Kamis (14/5/2026), digelar setelah seremoni penyambutan megah untuk Trump di Aula Besar Rakyat, Beijing, pada Kamis (14/5) pagi waktu setempat. Ini menjadi kunjungan pertama bagi seorang Presiden AS ke China dalam satu dekade terakhir.
- Survei Global Sebut Israel Jadi Negara Paling Tidak Disukai di Dunia
Survei global terbaru menunjukkan Israel menjadi negara yang paling tidak disukai di dunia. Israel saat ini dipandang lebih negatif dibanding negara-negara lainnya di dunia, disusul oleh Korea Utara (Korut), Afghanistan, dan Iran.
Data itu, seperti dilansir Middle East Monitor, Kamis (14/5/2026), terungkap dalam survei terbaru yang dirilis Nira Data sebagai bagian dari penelitian persepsi demokrasi dan negara tahun 2026.
Lima negara yang dipandang paling positif di dunia adalah Swiss, Kanada, Jepang, Swedia, dan Italia.
- Trump Puja-puji Xi Jinping Saat Bertemu di Beijing: Anda Pemimpin Hebat!
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan pujian untuk Presiden China Xi Jinping saat keduanya melakukan pertemuan di Beijing pada Kamis (14/5). Trump menyebut Xi sebagai "pemimpin hebat" dan menyampaikan optimisme untuk masa depan hubungan kedua negara.
"Suatu kehormatan untuk bersama Anda. Suatu kehormatan untuk menjadi teman Anda, dan hubungan antara China dan AS akan menjadi lebih baik dari sebelumnya," kata Trump dalam pertemuan dengan Xi di Beijing, seperti dilansir Anadolu Agency dan TRT World, Kamis (14/5/2026).
Pertemuan ini digelar setelah Trump menghadiri seremoni penyambutan megah di Aula Besar Rakyat, Beijing.
- Hindari Penangkapan ICC, Eks Kepala Kepolisian Filipina Kabur Lagi
Mantan Kepala Kepolisian Nasional Filipina, Ronald Dela Rosa, yang kini menjadi Senator telah melarikan diri dari Gedung Senat di Manila, yang menjadi tempatnya berlindung pekan ini untuk menghindari surat perintah penangkapan yang dirilis Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dela Rosa memimpin Kepolisian Nasional Filipina periode tahun 2016-2018, atau selama dua tahun pertama perang narkoba mematikan yang gencar pada era mantan Presiden Rodrigo Duterte. Operasi anti-narkoba itu menyebabkan kematian ribuan orang, banyak di antaranya pengguna narkoba dan pengedar narkoba level rendah.
Duterte sendiri telah ditangkap pada Maret tahun lalu, lalu diterbangkan ke Belanda dan ditahan di Den Haag, markas ICC, sembari menunggu persidangan.
- Gedung Putih: Trump-Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Tetap Terbuka
Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menyepakati jika Selat Hormuz "harus tetap terbuka" saat keduanya melakukan pembicaraan di Beijing. Gedung Putih menyebut pertemuan kedua pemimpin berlangsung "baik".
"Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi yang bebas," kata Gedung Putih dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Kamis (14/5/2026).
Situasi di perairan Selat Hormuz dan sekitarnya memanas sejak perang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu.











































