Bantahan Iran Buntut Dituding Serang UEA

Bantahan Iran Buntut Dituding Serang UEA

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 06 Mei 2026 07:48 WIB
FILE PHOTO: An Iranian flag flutters in front of the International Atomic Energy Agency (IAEA) headquarters in Vienna, Austria, January 15, 2016.   REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo
Bendera Iran. (Foto: Dok. REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo)
Jakarta -

Uni Emirat Arab (UEA) menuding Iran melancarkan rentetan serangan ke wilayahnya. Iran pun membantah tiak memiliki agenda untuk menyerang UEA.

Dikutip Al Arabiya, Selasa (5/5/2026), Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sedikitnya 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah dan empat drone yang diluncurkan dari Iran ke wilayahnya telah dicegat sepanjang Senin (4/5). Serangan itu disebut melukai tiga orang.

Kementerian Luar Negeri, UEA menyebut serangan udara tersebut sebagai eskalasi serius dan menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan negara.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem al-Budaiwi, mengutuk keras serangan Iran terhadap UEA tersebut. Dia menggambarkannya sebagai "tindakan agresi serius dan eskalasi secara terang-terangan".

Negara-negara Arab Mengecam

Seperti dilansir TRT World, Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Yordania menyampaikan kecaman untuk Teheran. Salah satu serangan drone dilaporkan memicu kebakaran di kompleks Zona Industri Minyak Fujairah, yang merupakan pusat energi utama di pantai timur UEA.

Saudi mengutuk keras serangan Iran tersebut dan menyatakan solidaritas dengan UEA dalam upaya melindungi kedaulatan dan keamanannya, serta menyerukan Iran untuk menghentikan serangan-serangannya.

"Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman dan penolakan keras Kerajaan Arab Saudi terhadap Iran yang menargetkan -- melibatkan rudal dan drone -- fasilitas sipil dan ekonomi di Uni Emirat Arab yang bersaudara, serta sebuah kapal milik perusahaan Emirat," tegas Kementerian Luar Negeri Saudi.

Kecaman lainnya datang dari Qatar yang menggambarkan serangan tersebut sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatannya dan ancaman serius terhadap keamanan dan stabilitas kawasan".

Kementerian Luar Negeri Qatar menuduh Iran telah "menargetkan situs dan fasilitas sipil di negara sahabat UEA menggunakan rudal dan drone".

Mesir turut mengutuk Iran. Kementerian Luar Negeri Mesir juga menyatakan "solidaritas dan dukungan penuh" terhadap langkah-langkah UEA selanjutnya.

"Memperingatkan dampak yang sangat berbahaya dari serangan-serangan ini, yang merupakan eskalasi serius yang menghambat upaya untuk meredakan ketegangan dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa".

Putra Mahkota Arab Saudi Kutuk Serangan Iran

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) berbicara via telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ) mengecam serangan Iran.

Laporan Saudi Press Agency (SPA), seperti dilansir Al Arabiya, Selasa (5/5/2026), menyebutkan MBS dalam percakapan telepon dengan MBZ, menyatakan "kecaman dan penolakan keras Kerajaan terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan" yang menargetkan UEA.

MBS, dalam laporan SPA, juga menegaskan dukungan Saudi untuk keamanan dan stabilitas UEA. Kedua pemimpin juga meninjau perkembangan regional dan cara-cara untuk meningkatkan keamanan serta stabilitas kawasan.

Kecaman MBS itu disampaikan setelah Kementerian Pertahanan UEA melaporkan pertahanan udaranya telah mencegat sedikitnya 15 rudal dan empat drone yang diluncurkan dari wilayah Iran, dalam empat gelombang serangan, pada Senin (4/5) waktu setempat.

Bantahan Iran Serang UEA

Otoritas Iran membantah tuduhan melakukan serangan ke Uni Emirat Arab (UEA). Seorang pejabat militer Iran, yang tidak disebutkan namanya, seperti dilansir AFP, Selasa (5/5/2026), menegaskan Teheran "tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya" untuk menyerang UEA.

"Republik Islam tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang dimaksud," tegas pejabat militer Iran tersebut saat berbicara kepada televisi pemerintah.

Dia justru mengatakan AS harus bertanggung jawab karena telah membuat jalur bagi kapal-kapal agar melewati Selat Hormuz secara ilegal.

"Para pejabat AS harus mengakhiri perilaku buruk menggunakan kekerasan dalam proses diplomatik dan menghentikan petualangan militer di wilayah minyak yang sensitif ini, yang mempengaruhi perekonomian semua negara di dunia," ucapnya.

Lihat juga Video Iran Balas AS, Serang Pangkalan Militer di UEA, Bahrain, dan Kuwait

Halaman 3 dari 2
(idn/idn)


Berita Terkait