Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut hampir 700 warga sipil tewas dalam rentetan serangan drone di wilayah Sudan sejak Januari lalu. PBB mengecam perang sipil yang berkecamuk selama tiga tahun di Sudan telah menciptakan "krisis kemanusiaan terbesar di dunia".
Sekarang memasuki tahun keempat, perang yang berkecamuk antara militer Sudan dan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (RSF) telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa lebih dari 11 juta orang mengungsi, dan menjerumuskan beberapa daerah ke dalam kelaparan serta kekurangan pangan.
"Dalam tiga bulan pertama tahun ini, hampir 700 warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan-serangan drone," kata kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir AFP, Selasa (14/4/2026).
Pernyataan Fletcher itu dirilis sehari sebelum peringatan tiga tahun perang sipil di Sudan.
Dalam beberapa bulan terakhir, serangan drone yang terjadi hampir setiap hari telah mengganggu kehidupan di seluruh Sudan, khususnya di wilayah Kordofan bagian selatan, yang kini menjadi medan pertempuran utama perang, dan di daerah-daerah yang dikuasai RSF di bagian barat, termasuk Darfur.
"Jutaan orang telah diusir dari rumah-rumah mereka di seluruh Sudan dan di luar perbatasannya, dengan seluruh komunitas dikosongkan dan keluarga-keluarga dipindahkan berulang kali. Risiko ketidakstabilan regional yang lebih luas sangat tinggi," sebut Fletcher dalam pernyataannya.
Dikatakan oleh Fletcher bahwa tiga tahun perang telah menghancurkan negara yang menyimpan harapan besar, dengan hampir 34 juta orang -- nyaris dua orang dari setiap tiga orang -- membutuhkan dukungan kemanusiaan.
Dia mengatakan kelaparan meningkat seiring mendekatnya musim paceklik, sementara ratusan ribu anak mengalami kekurangan gizi akut dan jutaan anak kehilangan kesempatan pendidikan. Wanita dan anak perempuan, sebut Fletcher, menghadapi kekerasan seksual yang sistemik dan brutal.
(nvc/ita)