Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang diinisiasi Pakistan gagal. Kelanjutan gencatan senjata di Iran pun menjadi tanda tanya.
Dilansir Al-Jazeera dan CNN, Minggu (12/4/2026), perundingan itu dilakukan oleh kedua negara yang tengah berperang tersebut dalam masa gencatan senjata selama 2 pekan. Delegasi AS dipimpin Wakil Presiden JD Vance.
Sementara, delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Perundingan itu dimulai pada Sabtu (11/4).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah 21 jam, perundingan yang digelar secara maraton itu resmi berakhir tanpa kesepakatan apa pun. Vance mengatakan pembicaraan maraton itu membahas berbagai isu.
"Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya," kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.
Meski telah berdiskusi selama 21 jam, kata Vance, kedua negara tak mencapai kesepakatan. Dia menyebut hal itu sebagai kabar buruk buat Iran.
"Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan," ujarnya.
Sementara, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan tidak ada yang mengharapkan pembicaraan dengan AS mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Dia menyebut hal itu memang sulit terjadi.
"Tentu saja, sejak awal, kita seharusnya tidak mengharapkan untuk mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada yang mengharapkan hal seperti itu," kata juru bicara kementerian Esmaeil Baghaei, menurut stasiun televisi pemerintah IRIB.
Dia meyakini kontak antara Iran dan Pakistan akan terus berlanjut. Dia menyebut diplomasi tak pernah berakhir.
"Diplomasi tidak pernah berakhir. Aparat diplomatik adalah alat untuk mengamankan, melindungi, dan melestarikan kepentingan nasional," kata Baghaei kepada kantor berita IRNA.
Pemimpin delegasi Iran, Ghalibaf, mengatakan bahwa dia menekankan Iran punya pengalaman tak baik dengan AS. Dia menyebut hal itu terjadi karena dua perang sebelumnya.
"Kami memiliki iktikad baik dan kemauan yang diperlukan, tetapi karena pengalaman dari dua perang sebelumnya, kami tidak mempercayai pihak lawan," tulis Ghalibaf di X.
"Pihak lawan pada akhirnya gagal mendapatkan kepercayaan delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini," sambungnya.
Dia berterima kasih kepada Pakistan. Dia mengatakan Pakistan telah berupaya memfasilitasi pertemuan tersebut.
"Saya juga berterima kasih atas upaya negara sahabat dan saudara kami, Pakistan, dalam memfasilitasi proses negosiasi ini, dan saya menyampaikan salam saya kepada rakyat Pakistan," ujarnya.
Sebagai informasi, AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menyebabkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu menjabat Pemimpin tertinggi Iran.
Iran langsung membalas dengan menyerang Israel dan berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk. Perang telah menyebabkan 2.076 orang tewas dan 26.500 orang terluka di Iran.
Selain itu, serangan balasan Iran telah menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 orang di Israel. Serangan balasan Iran juga menewaskan 13 tentara AS dan melukai 200 tentara AS.











































