Sekitar 10 kapal yang berlayar di dalam atau di dekat Selat Hormuz telah diserang sejak Iran memblokir jalur perairan strategis itu sebagai balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Serangan-serangan yang terjadi setelah perang meletus pada 28 Februari lalu itu, hampir sepenuhnya menghentikan lalu lintas di perairan strategis tersebut, yang merupakan jalur penting untuk minyak dan komoditi lainnya.
Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, seperti dilansir AFP, Senin (9/3/2026), telah mengeluarkan 10 peringatan serangan serta peringatan aktivitas mencurigakan, tetapi hanya merilis sedikit detail tentang kapal-kapal yang terlibat.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencantumkan pada situs webnya pada Jumat (7/3), bahwa total sembilan serangan melanda kapal-kapal di Selat Hormuz dalam satu pekan, termasuk empat insiden yang menewaskan total sedikitnya tujuh orang.
IMO menyatakan sedikitnya satu orang tewas dalam masing-masing serangan terhadap ketiga kapal, yakni Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative, pada 2 Maret lalu. Pada hari yang sama, kapal Hercules Star juga terkena serangan di perairan Selat Hormuz.
Antara 3 Maret hingga 5 Maret lalu, empat kapal lainnya terkena serangan, yakni Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe.
Kemudian pada 6 Maret, sedikitnya empat orang tewas ketika kapal Mussafah 2 terkena serangan.
Indonesia mengumumkan pada Minggu (8/3) bahwa sebuah kapal yang karakteristik dan posisi terakhirnya sesuai dengan Mussafah 2 tenggelam dua hari sebelumnya, tetapi dengan jumlah korban yang berbeda. Otoritas Indonesia melaporkan tiga awak kapal berkewarganegaraan Indonesia (WNI) hilang, satu awak WNI lainnya selama namun luka-luka, dan empat awak lainnya, dari negara-negara lainnya, selamat.
(nvc/ita)