Unit drone kamikaze pertama Amerika Serikat (AS) dilaporkan siap dikerahkan, jika Presiden Donald Trump memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Drone kamikaze AS yang memiliki kemampuan dalam serangan satu arah yang mematikan ini, juga bisa dikerahkan dalam misi pengintaian.
Kesiapan pengerahan drone kamikaze AS itu, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (27/2/2026), dilaporkan oleh media terkemuka Bloomberg, setelah juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, mengumumkan kesiapan unit drone itu untuk beroperasi.
Unit drone kamikaze buatan SpektreWorks yang berbasis di Arizona itu, dikenal sebagai Satuan Tugas Scorpion dan merupakan pengembangan dari unit drone eksperimental militer AS. Hawkins menegaskan dalam pernyataan via email kepada Bloomberg bahwa unit drone tersebut sekarang siap beroperasi.
"Kami membentuk skuadron ini pada tahun lalu untuk dengan cepat melengkapi prajurit kami dengan kemampuan drone tempur terbaru yang terus berkembang," kata Hawkins dalam pernyataannya.
Baca juga: Bayang-bayang Serangan AS ke Iran |
Unit drone serangan satu arah ini menjadi bagian dari pengerahan militer besar-besaran AS di kawasan Timur Tengah, yang diperintahkan oleh Trump untuk menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan tentang program nuklirnya.
Perundingan AS dan Iran dilanjutkan di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2), dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kedua pihak telah mencapai kemajuan yang baik dan putaran perundingan terbaru dapat digelar "segera".
Salah satu drone kamikaze berhasil diuji coba di kawasan Teluk pada pertengahan Desember tahun lalu, dari dek penerbangan kapal USS Santa Barbara, salah satu kapal tempur pesisir yang dikerahkan ke kawasan sebagai bagian dari armada AS.
Analis pertahanan dari Forecast International, Anna Miskelley, menilai pengerahan unit drone kamikaze itu menandai "pergeseran dari ketergantungan militer AS pada platform bernilai jutaan dolar seperti MQ-9 Reaper, yang semakin sulit untuk dibenarkan penggunaannya dalam konflik atrisi tinggi, yang berbasis kawanan".
CENTCOM memperkirakan drone dengan nama resmi "Sistem Serangan Tempur Tak Berawak Berbiaya Rendah" atau "LUCAS" ini, berharga sekitar US$ 35.000 (Rp 586,9 juta) per unit.
Drone LUCAS yang ringan bisa diluncurkan untuk serangan satu arah, misi pengintaian dan serangan maritim, di antara tugas-tugas lainnya. Menurut CENTCOM, drone tersebut memiliki "jangkauan yang luas dan dirancang untuk beroperasi secara otonom".
Meskipun unit drone kamikaze ini hanyalah bagian kecil dari pengerahan yang lebih luas, keterlibatannya dalam aksi militer mendatang akan menjadi yang pertama bagi unit yang baru dibentuk ini.
Hal ini juga dapat memvalidasi mandat Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mempercepat penggunaan pesawat tanpa awak oleh militer AS.
Pada saat yang sama, fakta bahwa drone kamikaze itu merupakan hasil rekayasa balik dari drone Shahed-136 buatan Iran, menunjukkan bahwa AS masih berusaha mengejar ketertinggalan, setelah pasukan Rusia dan Iran selama bertahun-tahun menggunakan drone kamikaze untuk menyerang target.
Simak juga Video 'Menlu Iran Yakin Bisa Capai Kesepakatan Nuklir dengan AS':











































