Cegah Krisis Demografi Usai Perang, Pria di Ukraina Diminta Bekukan Sperma

Cegah Krisis Demografi Usai Perang, Pria di Ukraina Diminta Bekukan Sperma

Yogi Ernes - detikNews
Selasa, 17 Feb 2026 11:33 WIB
Cegah Krisis Demografi Usai Perang, Pria di Ukraina Diminta Bekukan Sperma
Foto: Ilustrasi tentara Ukraina (DW (News)
Jakarta - Ada tren baru di Ukraina saat ini. Para pria kini diminta untuk membekukan spermanya untuk mencegah krisis demografi di tengah perang melawan Rusia yang masih berkecamuk.

Dilansir BBC, Selasa (17/2/2026), praktik ini mulai ditawarkan sejumlah klinik di Ukraina pada tahun 2022, atau di awal invasi Rusia ke negara tersebut. Wanita dan pria di Ukraina bisa membekukan sperma atau sel telur mereka secara gratis. Hal itu untuk menjaga tingkat kesuburan jika mereka terbunuh atau terluka dalam pertempuran.

Kebijakan itu lalu mulai dibahas di parlemen Ukraina pada tahun 2023. Negara diminta turun tangan mendanai pembekuan sperma dan sel telur bagi warga Ukraina yang turun ke medan perang.

"Para prajurit kita membela masa depan kita, tetapi mungkin kehilangan masa depan mereka sendiri, jadi kami ingin memberi mereka kesempatan itu," demikian anggota parlemen Oksana Dmitrieva menggambarkan undang-undang yang ia bantu rancang.

"Ini untuk mendukung mereka, sehingga mereka dapat menggunakan sperma mereka di kemudian hari," katanya.

Kebijakan tersebut awalnya tidak berjalan mulus. Pasalnya, muncul aturan di mana pemerintah Ukraina menetapkan sampel sperma dan sel telur harus dimusnahkan usai pendonor tewas.

Usai menerima protes publik, Ukraina memperbarui aturan pembekuan sperma dan sel telur. Dalam aturan baru kini tertera kebijakan sampel sel telur dan sperma tentara akan diawetkan secara gratis selama tiga tahun setelah kematian mereka untuk digunakan oleh pasangan dengan persetujuan tertulis sebelumnya.

Program ini juga bertujuan untuk mengatasi krisis demografis yang sudah ada sebelum invasi Rusia. Keadaan semakin diperburuk dengan banyaknya pria yang gugur dalam pertempuran, mayoritas di antaranya adalah warga Ukraina yang termuda dan paling bugar.

Kemudian ada jutaan orang, terutama perempuan, yang telah mengungsi. Empat tahun kemudian, banyak yang masih berada di luar negeri karena kehidupan di Ukraina tidak menjadi lebih mudah.

Di Pusat Kedokteran Reproduksi di Kyiv, Ukraina, banyak tentara mulai ikut program 'sperma beku' pada Januari tahun ini. Sejauh ini hanya sekitar selusin yang telah mendaftar, tetapi klinik tersebut yakin bahwa hal itu akan berubah begitu kabar tersebar.

"Kami mengharapkan permintaan yang besar. Kami memiliki harapan yang tinggi," kata direktur Oksana Holikova.

Upaya Ukraina untuk menjaga tingkat demografi lewat aturan 'pembekuan sperma' ini terus diperbaiki. Anggota parlemen Ukraina, Oksana Dmitrieva, mengatakan parlemen akan melakukan pemungutan suara pada Mei mendatang untuk memastikan keluarga tentara bisa menggunakan sel telur atau sperma dari anggota keluarga mereka yang gugur.

Selain itu, Direktur klinik di Kyiv, Oksana Horlikova, menyebut banyak veteran tentara yang kini mengalami masalah dalam hubungan seksualnya usai terlibat dalam perang. Hal itu dikhawatirkan akan mempersulit lahirnya generasi baru di Ukraina.

Oksana mengusulkan adanya aturan agar para tentara membekukan sperma mereka ketika direkrut. Aturan ini seperti para prajurit yang diminta meninggalkan sampel DNA untuk mengidentifikasi mereka jika mereka terbunuh.

Tonton juga video "Ide China Biar Warganya Mau Nikah di Tengah Krisis Demografi"

(ygs/idh)



Berita Terkait