Pengacara mendiang Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seks anak, mengajukan permintaan resmi kepada Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (AS) atau CIA dan Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk merilis semua dokumen yang terkait dengan potensi koneksi intelijen yang melibatkan kliennya.
Hal tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (10/2/2026), dilaporkan oleh media terkemuka AS, The Washington Post, pada Senin (9/2) waktu setempat.
Disebutkan The Washington Post dalam laporannya bahwa pengacara yang mewakili harta warisan Epstein telah secara resmi meminta agar CIA dan NSA mengungkapkan dokumen apa pun yang menunjukkan hubungan operasional, afiliasi, koneksi intelijen, atau informasi intelijen apa pun yang disembunyikan terkait kliennya.
Epstein ditemukan tewas di sel tahanan tempatnya ditahan di New York ketika dia menunggu sidang kasus perdagangan seks anak. Kematiannya ditetapkan sebagai bunuh diri, namun telah memicu berhasil spekulasi dan konspirasi selama bertahun-tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hubungan yang dimiliki oleh Epstein secara luas dengan orang-orang kaya dan berpengaruh di dunia, menjadi isu politik yang sensitif di seluruh dunia. Dia juga dicurigai sempat menjadi mata-mata Israel dan bergabung dengan intelijen AS semasa hidupnya.
Permintaan yang diajukan pengacara Epstein ini didasarkan pada Undang-undang Kebebasan Informasi (FOIA).
Permintaan resmi ini dimaksudkan untuk mencari dokumen-dokumen yang dapat menunjukkan apakah Epstein memiliki hubungan yang terbuka atau yang diakui dengan lembaga-lembaga intelijen tersebut, dan apakah ada dokumen -- bersifat rahasia atau tidak -- mengenai dirinya.
Langkah ini memperkuat spekulasi yang telah lama ada tentang kemungkinan koneksi Epstein dengan dinas-dinas intelijen.
Respons FOIA sebelumnya dari CIA, termasuk permintaan yang diajukan tahun 1999 dan tahun 2011, tidak menemukan bukti afiliasi terbuka, tetapi menolak utnuk mengonfirmasi atau menyangkal keberadaan materi rahasia apa pun.
Sama seperti CIA, NSA sebelumnya juga tidak mengonfirmasi maupun membantah keberadaan dokumen yang relevan dalam permintaan terkait, dengan alasan kekhawatiran akan potensi bahaya terhadap keamanan nasional dan perlindungan sumber serta metode intelijen.
Permintaan resmi ini diajukan setelah kumpulan dokumen Epstein yang baru saja dirilis Departemen Kehakiman AS pada 30 Januari lalu, mengungkapkan interaksi masa lalu antara Epstein dan Direktur CIA William Burns, yang menjabat periode Maret 2021 hingga Januari 2025.
Saat masih menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri AS pada tahun 2014, menurut dokumen pemerintah AS tersebut, Burns telah menjadwalkan serangkaian pertemuan dengan Epstein, termasuk makan siang di sebuah firma hukum di Washington dan pertemuan di rumah Epstein di New York.
Juru bicara Burns mengatakan bahwa dia "sangat menyesal pernah bertemu" dengan Epstein, dan menegaskan bahwa semua kontak telah diputus setelah Burns mengetahui tentang hukuman pidana Epstein atas kasus prostitusi anak pada tahun 2008 lalu.
Simak Video 'Korban Epstein Lawan Diam: Keadilan Harus Terungkap':











































