×
Ad

Iran Komplain ke Prancis-Jerman-Italia-Inggris karena Dukung Demo

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 13 Jan 2026 15:16 WIB
Aksi demo besar-besaran melanda Iran (Foto: via REUTERS/Stringer)
Teheran -

Pemerintah Iran memanggil para diplomat yang mewakili Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris pada Senin (12/1) waktu setempat. Pemanggilan ini dimaksudkan untuk memprotes dukungan negara-negara Eropa tersebut terhadap unjuk rasa antipemerintah yang tengah melanda Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dilansir AFP, Selasa (13/1/2026), mengatakan bahwa para diplomat Eropa itu diperlihatkan sebuah video yang menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh "para perusuh" dan diberitahu bahwa pemerintah mereka harus "menarik pernyataan resmi yang mendukung para demonstran".

Gelombang unjuk rasa mengguncang Iran sejak bulan lalu, yang dimulai pada 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.

Aksi protes itu meluas ke beberapa kota lainnya dan berkembang menjadi gerakan lebih luas yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa di Iran sejak revolusi tahun 1979 silam.

Di Paris, Kementerian Luar Negeri Prancis mengonfirmasi bahwa "para Duta Besar Eropa" telah dipanggil oleh otoritas Iran.

Sementara itu, Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola mengumumkan pada Senin (12/1) bahwa institusi tersebut telah melarang semua diplomat dan perwakilan Iran untuk memasuki gedung Parlemen Eropa menyusul penindakan keras yang mematikan oleh otoritas Teheran terhadap para demonstran.

"Ini tidak bisa seperti biasa. Karena rakyat Iran yang berani terus memperjuangkan hak dan kebebasan mereka, hari ini saya telah mengambil keputusan untuk melarang semua staf diplomatik dan perwakilan Republik Islam Iran lainnya dari semua gedung Parlemen Eropa," kata Metsola dalam pernyataan via media sosial X.

"Dewan ini tidak akan membantu melegitimasi rezim ini yang telah mempertahankan diri melalui penyiksaan, penindasan, dan pembunuhan," tambahnya.




(nvc/ita)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork