5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Tim detikcom - detikNews
Senin, 12 Jan 2026 18:15 WIB
5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini
Situasi demo rusuh di Iran (Foto: UGC via AP)
Jakarta -

Gelombang protes yang mengguncang Iran terus berlanjut meski pemerintah memperketat penindakan aparat secara masif. Informasi terbaru menunjukkan jumlah korban tewas terus bertambah, sementara pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon membuat kondisi di lapangan semakin sulit dipantau secara menyeluruh.

Informasi mengenai situasi terkini Iran, jumlah korban dan pemblokiran internet hingga jaringan telepon, dilaporkan oleh jurnalis serta kelompok pembela hak asasi manusia (HAM).

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Senin (12/1/2026):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

- Heboh, Trump Sebut Dirinya 'Presiden Sementara Venezuela'

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunggah postingan via media sosial Truth Social yang mengklaim diri sebagai "Presiden Sementara Venezuela". Ini dilakukan beberapa hari setelah operasi militer AS di ibu kota Venezuela, Caracas berujung penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

ADVERTISEMENT

Postingan tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency dan Hindustan Times, Senin (12/1/2026), menampilkan screenshot dari halaman Wikipedia untuk profil Trump, yang menunjukkan foto resmi Presiden AS tersebut dengan tulisan "Acting President of Venezuela" sejak Januari 2026.

Screenshot yang diposting Trump itu tampaknya merupakan gambar hasil rekayasa atau telah diedit secara digital.

- Trump Ancam Intervensi Militer di Iran, China Bilang Gini

Pemerintah China menegaskan bahwa mereka menentang "campur tangan" asing di negara lain. Hal ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi militer, jika Iran terus membunuh para demonstran.

"Kami selalu menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning dalam konferensi pers rutin ketika ditanya tentang ancaman Trump tersebut.

"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah," imbuhnya, dilansir kantor berita AFP, Selasa (12/1/2026).

- Iran Tegaskan Tak Ingin Berperang, Tapi Siap untuk Perang!

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya tidak ingin berperang, namun sepenuhnya siap untuk perang. Araghchi juga mengatakan bahwa Teheran siap untuk negosiasi.

Pernyataan ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa kepemimpinan Iran menghubungi dirinya untuk melakukan "negosiasi", setelah dia berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer jika Iran membunuh para demonstran saat unjuk rasa marak.

"Republik Islam Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap untuk perang," kata Araghchi saat berbicara dalam konferensi para Duta Besar asing di Teheran, yang disiarkan televisi pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Senin (12/1/2026).

- Trump Ancam Intervensi Militer di Iran, China Bilang Gini

Pemerintah China menegaskan bahwa mereka menentang "campur tangan" asing di negara lain. Hal ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi militer, jika Iran terus membunuh para demonstran.

"Kami selalu menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning dalam konferensi pers rutin ketika ditanya tentang ancaman Trump tersebut.

"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah," imbuhnya, dilansir kantor berita AFP, Selasa (12/1/2026).

- Korban Protes Capai 544, Iran Umumkan Perlawanan Nasional

Gelombang protes yang mengguncang Iran terus berlanjut meski pemerintah memperketat penindakan aparat secara masif. Informasi terbaru menunjukkan jumlah korban tewas terus bertambah, sementara pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon membuat kondisi di lapangan semakin sulit dipantau secara menyeluruh.

Informasi mengenai situasi terkini Iran, jumlah korban dan pemblokiran internet hingga jaringan telepon, dilaporkan oleh jurnalis serta kelompok pembela hak asasi manusia (HAM). Kepada DW, aktivis Jerman-Iran Daniela Sepheri menuturkan risiko besar para warga ketika mereka melakukan aksi protes.

Tonton juga Video Terpopuler Sepekan: Yaqut Jadi Tersangka, Maduro Ditangkap AS

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads