Pasukan Rusia melancarkan serangan rudal dan drone besar-besaran ke Kyiv, ibu kota Ukraina. Rentetan serangan itu menewaskan 10 orang, melukai 38 orang, dan merusak bangunan-bangunan tempat tinggal serta bangunan lainnya di tujuh distrik.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan serangan itu, yang juga menewaskan seorang anak, menunjukkan kepada dunia tentang jawaban Rusia atas diplomasi di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang.
"Rusia memilih balistik, bukan meja perundingan," kata Zelenskyy di media sosial X, dilansir kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Kamis (28/8/2025). Dia pun menyerukan sanksi baru terhadap Rusia. "Rusia memilih untuk terus membunuh, bukan mengakhiri perang," cetusnya.
Otoritas kota Kyiv melaporkan setidaknya 38 orang terluka saat operasi pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung, dengan layanan darurat memadamkan api dan menyisir puing-puing bangunan yang hancur.
Ledakan-ledakan menerangi langit malam di ibu kota selama peringatan serangan udara. Peringatan tersebut berlangsung selama lebih dari sembilan jam, dengan kepulan asap menutupi langit saat drone terbang di atas.
(ita/ita)