Bayi Terikat Pusar Selamat dari Reruntuhan Akibat Gempa di Suriah, Ibu Tewas

ADVERTISEMENT

Bayi Terikat Pusar Selamat dari Reruntuhan Akibat Gempa di Suriah, Ibu Tewas

Haris Fadhil - detikNews
Selasa, 07 Feb 2023 22:41 WIB
EDITORS NOTE: Graphic content / A newborn baby who was found still tied by her umbilical cord to her mother and pulled alive from the rubble of a home in northern Syria following a deadly earthquake, receives medical care from doctor Hani Maaruf, at a clinic in Afrin, on February 7, 2023. - The infant is the sole survivor of her immediate family, the rest of whom were all killed when a 7.8-magnitude quake that struck Syria and neighbouring Turkey flattened the family home in the rebel-held town of Jindayris, cousin Khalil al-Suwadi said. (Photo by Rami al SAYED / AFP)
Foto: Bayi yang ditemukan selamat dari rerentuhan akibat gempa di Suriah kini dirawat di RS. (AFP/RAMI AL SAYED)
Damascus -

Seorang bayi yang baru lahir ditemukan selamat di bawah puing-puing sebuah rumah yang roboh akibat gempa di Suriah utara. Bayi itu disebut masih terikat tali pusat ke ibunya yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Dilansir AFP, Selasa (7/2/2023), anggota keluarga besar menarik bayi yang baru lahir itu hidup-hidup dari puing-puing sebuah rumah setelah menemukan bayi tersebut masih terikat tali pusar ke ibunya.

Bayi itu adalah satu-satunya yang selamat dari keluarga terdekatnya, yang semuanya tewas ketika gempa berkekuatan 7,8 yang melanda Suriah dan Turki meratakan rumah keluarga di kota Jindayris yang dikuasai pemberontak.

"Kami mendengar suara saat sedang menggali," kata salah satu keluarga bayi itu, Khalil al-Suwadi, kepada AFP.

"Kami membersihkan debu dan menemukan bayi dengan tali pusar (utuh) jadi kami memotongnya dan sepupu saya membawanya ke rumah sakit," sambungnya.

Video penyelamatan itu viral di media sosial. Rekaman itu menunjukkan seorang pria berlari dari puing-puing bangunan empat lantai yang runtuh sambil menggendong bayi mungil yang tertutup debu.

Pria kedua berlari ke arah pria pertama membawa selimut untuk mencoba menghangatkan bayi yang baru lahir di suhu di bawah nol derajat. Sementara, pria ketiga berteriak meminta mobil untuk membawanya ke rumah sakit.

Bayi itu dibawa untuk dirawat di kota terdekat Afrin sementara anggota keluarga menghabiskan beberapa jam berikutnya untuk mengevakuasi jenazah ayah si bayi, Abdullah, ibu si bayi Afraa, dan empat saudara kandung dan seorang bibi.

Tubuh mereka dibaringkan di lantai rumah kerabat yang berdekatan menjelang pemakaman bersama yang diadakan pada hari Selasa wakut setempat. Di ruangan remang-remang, Suwadi menatap mayat-mayat tak bernyawa itu dan mencatat nama-nama mereka.

"Kami mengungsi dari (kota timur yang dikuasai pemerintah) Deir Ezzor. Abdullah adalah sepupu saya dan saya menikah dengan saudara perempuannya," katanya.

Rumah keluarga itu adalah salah satu dari sekitar 50 rumah di Jindayris yang rata dengan tanah akibat gempa. Di seluruh Suriah, lebih dari 1.600 orang tewas, selain lebih dari 3.400 tewas di Turki.

Di dalam inkubator di rumah sakit di Afrin, bayi yang baru lahir itu dihubungkan ke infus, tubuhnya terluka, dan perban melilit tangan kirinya. Dahi dan jari-jarinya masih membiru karena kedinginan saat dokter anak Hani Maarouf memantau bagian vitalnya.

"Dia sekarang stabil," kata Maarouf tetapi mencatat bahwa dia tiba dalam kondisi buruk.

"Dia mengalami beberapa memar dan luka di sekujur tubuhnya. Dia juga datang dengan hipotermia karena cuaca yang sangat dingin. Kami harus menghangatkannya dan memberikan kalsium," sambungnya.

Jindayris direbut oleh Turki dan proksi pemberontak Suriahnya dalam serangan tahun 2018 yang mengusir pasukan Kurdi dari wilayah Afrin. Terputus dari wilayah yang dikuasai pemerintah, kawasan ini sangat bergantung pada bantuan dari Turki dan kekurangan keahlian atau tenaga untuk melakukan tanggap darurat yang efektif sendiri.

Lihat Video 'Bayi Selamat dari Reruntuhan Gempa Turki Usai Terjebak 29 Jam':

[Gambas:Video 20detik]



(haf/isa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT