Ibarat Hidup Tak Bernapas Wanita Afghanistan di Bawah Taliban

ADVERTISEMENT

Ibarat Hidup Tak Bernapas Wanita Afghanistan di Bawah Taliban

BBC Indonesia - detikNews
Senin, 30 Jan 2023 22:57 WIB
A woman wearing a burka walks through a bird market as she holds her child, in downtown Kabul, Afghanistan, Sunday, May 8, 2022. Afghanistan’s Taliban rulers on Saturday ordered all Afghan women to wear head-to-toe clothing in public — a sharp, hard-line pivot that confirmed the worst fears of rights activists and was bound to further complicate Taliban dealings with an already distrustful international community. (AP Photo/Ebrahim Noroozi)
Wanita Afghanistan (Foto: AP/Ebrahim Noroozi)
Jakarta -

Tujuh belas bulan sudah Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan. Negeri itu kini menghadapi tantangan yang besar, salah satunya soal perempuan.

Dilansir BBC Indonesia, Senin (30/1/2023), separuh dari populasi di Afghanistan mengalami kelaparan akut. Mereka harus bertahan hidup di musim dingin dengan suhu di bawah nol derajat, di saat pasokan listrik yang terputus-putus dan kegagalan ekonomi.

Hidup menjadi sulit bagi hampir semua orang, tetapi kebebasan perempuan Afghanistan juga dibatasi. Seperti terkait hak mereka untuk bekerja, sekolah, dan bersosialisasi di bawah aturan yang diberlakukan Taliban.

BBC telah berbicara dengan perempuan-perempuan Afghanistan dari berbagai wilayah di negara itu, yang mengirimkan pesan dan rekaman suara. Mereka mengungkapkan bagaimana hidup mereka berubah drastis di bawah pemerintahan Taliban. BBC menyembunyikan beberapa identitas mereka demi keamanan.

Perempuan dari berbagai lapisan masyarakat telah terdampak sejak Taliban berkuasa, termasuk seorang pekerja kemanusiaan dari Badakhshan, salah satu daerah termiskin sekaligus paling terpencil di Afghanistan.

Larangan Taliban ke Wanita

Pada awal Desember tahun lalu, Taliban mengeluarkan perintah yang melarang perempuan bekerja untuk lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Mereka membenarkan pelarangan itu dengan alasan bahwa staf LSM perempuan telah melanggar aturan berpakaian dengan tidak mengenakan jilbab atau cadar.

Ini telah dilihat sebagai ancaman terhadap operasi kemanusiaan yang mendesak di negara tersebut, juga sebagai pelanggaran terhadap hak-hak perempuan.

"Kami bertemu beragam orang; kami berbincang dengan perempuan, laki-laki, anak-anak, dan orang tua," kata pekerja kemanusiaan yang kini tidak bisa menjalankan pekerjaannya lagi.

"Kami biasanya menanyakan persoalan dan kebutuhan mereka, kemudian kami melaporkan masalah dan suara mereka ke kantor kami. Saya merasa senang bisa membantu mereka," kata dia.

Setidaknya 124 orang tewas dalam suhu buku menurut Badan Penanggulangan Bencana, dan bantuan sangat diperlukan.

Sementara PBB mengatakan bahwa dua pertiga penduduk Afghanistan membutuhkan bantuan kemanusiaan pada akhir tahun lalu.

"Kami hidup tanpa harapan. Sekarang saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di rumah. Saya menghabiskan waktu dengan menonton film, video di media sosial dan acara TV," kata dia.

Pekerja kemanusiaan itu juga berharap bisa berkuliah untuk mendapatkan gelar master, namun mimpi itu sekarang "hancur".

"Saya merasa lelah tidak melakukan apa-apa sepanjang hari. Saya bahkan tidak bisa pergi keluar dengan tenang," katanya.

Dia mengatakan telah beberapa kali berselisih dengan Taliban. Pasukan sering kali memberhentikan di pos pemeriksaan.

"Setiap kali saya keluar, mereka menghentikan saya di pos pemeriksaan, menyuruh saya mengenakan jilbab dan menutupi wajah serta rambut saya. Meskipun saya memiliki jilbab yang layak, mereka tetap akan menghentikan Anda dan memerintahkan Anda untuk mengenakan jilbab dengan benar," katanya.

PPB dalam perkembangan terbaru mengatakan kepada BBC bahwa menteri Taliban mengisyaratkan akan membuat aturan baru supaya perempuan Afghan dapat bekerja di beberapa operasi kemanusiaan. Masih belum jelas kapan aturan baru itu akan dikeluarkan.

Selengkapnya pada halaman berikut.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT