Sanksi Vatikan ke Uskup Peraih Nobel Diduga Lecehkan Anak-anak

ADVERTISEMENT

Sanksi Vatikan ke Uskup Peraih Nobel Diduga Lecehkan Anak-anak

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 01 Okt 2022 05:11 WIB
FILE - Nobel Peace Prize laureate, East Timor bishop Carlos Filipe Ximenes Belo displays his certificate and medal during the Nobel ceremony at the Oslo townhall, on Dec. 10, 1996. Belo has been accused in a Dutch magazine article of sexually abusing boys in East Timor in the 1990s, rocking the Catholic Church in the impoverished nation and forcing officials at the Vatican and his religious order to scramble to provide answers. (AP Photo/Bjoern Sigurdsoen, File)
Uskup Carlos Ximenes Belo (AP Photo/Bjoern Sigurdsoen, File)
Jakarta -

Peraih Nobel Perdamaian, Uskup Carlos Ximenes Belo, yang merupakan uskup Timor Leste dilaporkan melecehkan secara seksual sejumlah anak laki-laki. Dugaan itu membuat Vatikan menjatuhkan sanksi kepada Belo.

Dilansir ABC News, Jumat (30/9/2022), laporan soal tindak pelecehan seksual itu diungkapkan pertama kali oleh majalah Belanda, De Groene Amsterdammer. Tindak pelecehan itu dilaporkan terjadi saat perjuangan kemerdekaan Timor Leste tahun 1990-an silam.

Dalam laporannya, De Groene Amsterdammer menuliskan pengakuan dua pria yang mengaku menjadi korban Uskup Belo.

"Uskup memperkosa dan melecehkan saya secara seksual malam itu," kata salah satu korban, Roberto seperti dikutip majalah tersebut.

"Pagi-pagi dia menyuruh saya pergi. Saya takut karena hari masih gelap. Jadi saya menunggu sebelum bisa pulang. Dia juga meninggalkan uang untuk saya," kata Roberto.

"Itu dimaksudkan agar saya tutup mulut. Dan untuk memastikan saya akan datang lagi," tuturnya

Majalah Belanda itu mengatakan penyelidikannya mengindikasikan Uskup Belo juga melecehkan sejumlah anak laki-laki pada 1980-an ketika dia masih bekerja di sebuah pusat pendidikan.

Korban lainnya, Paulo, sekarang 42 tahun, mengatakan bahwa dia pernah dianiaya di rumah uskup tersebut di ibu kota Timor-Leste, Dili.

"Saya pikir: Ini menjijikkan. Saya tidak akan pergi ke sana lagi," katanya kepada majalah itu.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (30/9/2022), Belo meraih Nobel Perdamaian tahun 1996 bersama Jose Ramos-Horta, yang saat ini menjabat Presiden Timor Leste. Ramos-Horta sempat ditanya wartawan soal tuduhan yang menjerat Belo sepulangnya dari kunjungan ke Amerika Serikat (AS), pada Kamis (29/9) waktu setempat.

"Saya lebih memilih menunggu tindakan lebih lanjut dari Takhta Suci," ucapnya, merujuk pada Vatikan.

Menurut radio lokal Portugal, Radio Renascenca, Belo yang kini diyakini tinggal di Portugal, tidak memberikan tanggapan ketika dihubungi lewat telepon.

Simak berita selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan juga 'Alasan Pangeran Andrew Dilarang Pakai Seragam Militer di Pemakaman Ratu Elizabeth II':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT