Profil Uskup Belo yang Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Anak-anak

ADVERTISEMENT

Profil Uskup Belo yang Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Anak-anak

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 30 Sep 2022 14:35 WIB
FILE - Nobel Peace Prize laureate, East Timor bishop Carlos Filipe Ximenes Belo displays his certificate and medal during the Nobel ceremony at the Oslo townhall, on Dec. 10, 1996. Belo has been accused in a Dutch magazine article of sexually abusing boys in East Timor in the 1990s, rocking the Catholic Church in the impoverished nation and forcing officials at the Vatican and his religious order to scramble to provide answers. (AP Photo/Bjoern Sigurdsoen, File)
Uskup Belo (Foto: AP Photo/Bjoern Sigurdsoen, File)
Jakarta -

Vatikan menjatuhkan sanksi disiplin terhadap Uskup Carlos Ximenes Belo yang dituduh melecehkan anak-anak saat perjuangan kemerdekaan Timor Leste tahun 1990-an silam. Tuduhan pelecehan seksual itu menggemparkan Gereja Katolik Timor Leste yang sempat dipimpin Uskup Belo, yang sosoknya sangat dihormati di Timor Leste. Seperti apa sosoknya?

Dilansir Britannica.com, Carlos Filipe Ximenes Belo yang lahir pada 3 Februari 1948 di Wailacama, Timor Leste adalah uskup Katolik Roma Dili. Dia bersama Jose Ramos-Horta, menerima Hadiah Nobel Perdamaian 1996 atas upaya mereka membawa perdamaian ke Timor Timur (Timor Leste) selama periode wilayah itu di bawah kendali Indonesia (1975-1999).

Belo ditahbiskan menjadi uskup pada tahun 1983. Sebagai pemimpin spiritual di wilayah yang mayoritas beragama Katolik, ia menjadi salah satu juru bicara utama rakyat Timor.

Pada tahun 1989 ia diangkat menjadi administrator apostolik Dili. Dia mengecam taktik dan kebijakan keras pemerintah Indonesia saat itu. Setelah pembantaian demonstran damai di Dili pada tahun 1991, Belo berhasil mengkampanyekan reformasi di militer dan pemecatan dua jenderal.

Sebagai orang yang sangat percaya pada perlawanan tanpa kekerasan, Belo mencari cara damai untuk menyelesaikan masalah di tanah airnya. Dalam sebuah surat terbuka yang ditulis pada Juli 1994, ia menguraikan keprihatinannya terhadap rakyat Timor Timur dan mengusulkan agar pemerintah Indonesia mengurangi kehadiran militernya, memperluas hak-hak sipil warga negara, dan mengizinkan Timor Timur mengadakan referendum demokratis tentang penentuan nasib sendiri.

Referendum, yang diadakan pada tahun 1999 tersebut, membuka jalan bagi kemerdekaan Timor Leste pada tahun 2002.

Dengan alasan kesehatan yang buruk, Belo mengundurkan diri sebagai administrator apostolik Dili pada November 2002. Ia kemudian menolak seruan untuk mencalonkan diri sebagai presiden Timor Timur. Pada tahun 2004 dia mulai melayani sebagai misionaris di Mozambik.

Tuduhan pelecehan seksual oleh Uskup Belo diungkapkan pertama kali oleh majalah Belanda, De Groene Amsterdammer. Dalam laporannya, De Groene Amsterdammer menuliskan pengakuan dua pria yang mengaku menjadi korban Uskup Belo.

Lihat juga video 'Bocah di Medan Dilecehkan 3 Orang Hingga Terinfeksi HIV':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT