Urusan Senjata Nuklir Bikin AS dan Rusia Saling Lempar Ancaman

ADVERTISEMENT

Urusan Senjata Nuklir Bikin AS dan Rusia Saling Lempar Ancaman

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 27 Sep 2022 05:00 WIB
FILE - President Joe Biden meets with Russian President Vladimir Putin, June 16, 2021, in Geneva, Switzerland. Biden and Putin are scheduled to speak Thursday, Dec. 30, as the Russian leader has stepped up his demands for security guarantees in Eastern Europe. (AP Photo/Patrick Semansky, File)
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin. (AP Photo/Patrick Semansky, File)
Jakarta -

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi militer parsial dalam upaya memperkuat pasukan untuk operasi militer di Ukraina. Dia menyerukan peningkatan wajib militer, dengan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu mengonfirmasi Rusia akan memanggil hingga 300.000 tentara cadangan untuk dikerahkan dalam konflik Ukraina.

Putin dalam pidatonya juga memperingatkan bahwa Rusia akan menggunakan senjata apapun untuk mempertahankan wilayahnya. Putin turut bicara potensi penggunaan senjata nuklir.

"Mereka yang berusaha memeras kami dengan senjata nuklir seharusnya mengetahui bahwa angin juga bisa berbelok ke arah mereka," ucap Putin dengan nada memperingatkan, pekan lalu, seperti dilansir AFP.

"Ini bukan gertakan," tegas Putin saat itu.

Dalam pernyataan terpisah pada Sabtu (24/9) waktu setempat, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov menyebut bahwa wilayah-wilayah Ukraina yang tengah menggelar referendum akan mendapatkan perlindungan penuh jika dianeksasi oleh Moskow.

Keempat wilayah itu adalah Luhansk, Kherson, kemudian sebagian wilayah Donetsk dan Zaporizhshia. Hasil referendum dinilai akan memenuhi keinginan Moskow dan parlemen Rusia dilaporkan akan segera mengambil langkah untuk meresmikan aneksasi dalam hitungan hari.

Dengan memasukkan empat wilayah Ukraina itu ke dalam wilayah Rusia, maka Kremlin bisa melontarkan dalih bahwa upaya merebut kembali wilayah-wilayah itu sebagai serangan terhadap Rusia sendiri -- menjadi ancaman bagi Kiev dan Barat.

Dalam pernyataan terbaru, Lavrov kembali mengulangi klaim palsu Moskow untuk membenarkan invasi, yakni bahwa pemerintah terpilih di Kiev berkuasa secara tidak sah dan dipenuhi neo-Nazi.

Saat ditanya wartawan apakah Rusia akan memiliki alasan untuk menggunakan senjata nuklir demi mempertahankan wilayah yang dianeksasi, Lavrov menjawab bahwa wilayah Rusia, termasuk wilayah yang 'akan ditetapkan' dalam konstitusi Rusia di masa depan, 'berada di bawah perlindungan penuh negara'.

Simak juga 'Pernyataan Putin soal Penggunaan Nuklir Bukan Gertakan':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT