ADVERTISEMENT

Perang Memanas! Rusia Kerahkan 300.000 Tentara Cadangan ke Ukraina

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 21 Sep 2022 14:41 WIB
FILE - Russian army soldiers march during an action in support for the soldiers involved in the military operation in Ukraine, at the Mamaev Kurgan, a World War II memorial in Volgograd, Russia, July 11, 2022. Russian President Vladimir Putin has on Thursday, Aug. 25 ordered the Russian military to increase the size of the countrys armed forces by 137,000 amid Moscow’s military action in Ukraine. (AP Photo/Alexandr Kulikov, file)
Ilustrasi tentara Rusia (AP Photo/Alexandr Kulikov, file)
Moskow -

Menteri Pertahanan (Menhan) Rusia Sergei Shoigu mengumumkan pengerahan 300.000 tentara cadangan untuk membantu operasi militer di Ukraina. Hal itu disampaikan Shoigu usai Presiden Vladimir Putin merilis dekrit yang mengatur mobilisasi militer parsial terkait konflik di Ukraina.

"Tiga ratus ribu tentara cadangan akan dipanggil," ucap Shoigu dalam wawancara dengan televisi pemerintah Rusia, seperti dilansir AFP, Rabu (21/9/2022).

Shoigu menambahkan bahwa itu hanya sebagian kecil dari pasukan militer Rusia yang tersedia yang akan dipanggil.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Rusia, seperti dilansir Reuters, Shoigu menyatakan para mahasiswa dan orang-orang yang sudah pernah mengikuti wajib militer (wamil) tidak akan dipanggil untuk direkrut dalam operasi militer di Ukraina.

Sebelumnya, Putin dalam pernyataan yang disiarkan televisi Rusia memerintahkan mobilisasi militer pertama sejak Perang Dunia II. Namun, mobilisasi militer ini hanya bersifat sebagian atau parsial.

Pengumuman ini disampaikan seiring pasukan Rusia memerangi serangan balasan tentara Ukraina yang telah berhasil merebut kembali beberapa wilayah yang diduduki.

Dilansir dari Al-Arabiya, Rabu (21/9/2022), dalam pidato yang disiarkan televisi, Putin mengatakan mobilisasi parsial dari 2 juta pasukan cadangan militernya adalah untuk mempertahankan Rusia dan wilayahnya. Putin mengklaim Barat ingin menghancurkan Rusia dan tidak menginginkan perdamaian di Ukraina.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT