ADVERTISEMENT

Rusia Ancam Tutup PLTN Zaporizhzhia, Ukraina: Berisiko Bencana Nuklir!

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 19 Agu 2022 16:08 WIB
FILE - A Russian serviceman guards an area of the Zaporizhzhia Nuclear Power Station in territory under Russian military control, southeastern Ukraine, May 1, 2022. Russia and Ukraine have trade blame over shelling of the Zaporizhzhia nuclear power plant, Europes largest. This photo was taken during a trip organized by the Russian Ministry of Defense. (AP Photo, File)
Ilustrasi -- PLTN Zaporizhzhia di Ukraina yang kini dikuasai pasukan Rusia (dok. AP Photo)
Kiev -

Rusia menyatakan pihaknya bisa menutup Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, yang merupakan pembangkit nuklir terbesar di Eropa, usai dilanda serangan di garis depan pertempuran di Ukraina. Otoritas Kiev menyebut langkah itu justru akan meningkatkan risiko bencana nuklir.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (19/8/2022), Rusia juga menolak seruan internasional untuk penetapan zona demiliterisasi di sekitar PLTN Zaporizhzhia, yang dikuasai pasukan Moskow sejak awal-awal invasi pada akhir Februari lalu. PLTN Zaporizhzhia masih dioperasikan oleh para insinyur Ukraina di bawah pendudukan Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang membahas situasi di PLTN itu dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Guterres yang sedang berkunjung ke Lviv, menyerukan kepada PBB utuk memastikan PLTN itu di-demiliterisasi dan dilindungi.

"Teror yang disengaja dari pihak agresor ini bisa memiliki konsekuensi bencana global bagi seluruh dunia," tulis Zelensky dalam aplikasi pesan Telegram.

Lebih lanjut, Zelensky menuduh Rusia melakukan 'pemerasan nuklir' di PLTN Zaporizhzhia.

PLTN Zaporizhzhia yang dikuasai Rusia berada di tepi selatan bendungan besar, sedangkan pasukan Ukraina menguasai tepi utara. Beberapa hari terakhir, sejumlah gempuran dilaporkan melanda area dekat PLTN itu, dengan Rusia dan Ukraina saling menyalahkan.

Ukraina juga menuding Rusia menggunakan PLTN itu sebagai tameng bagi pasukannya untuk melancarkan serangan melintasi bendungan ke kota-kota yang masih dikuasai Kiev. Otoritas Moskow membantah tudingan itu.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT