ADVERTISEMENT

Iran Bantah Coba Bunuh Eks Penasihat Trump Demi Balas Kematian Soleimani

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Kamis, 11 Agu 2022 17:35 WIB
FILE PHOTO: Former U.S. Ambassador to the United Nations John Bolton speaks at the Conservative Political Action Conference (CPAC) in Oxon Hill, Maryland, U.S. February 24, 2017. REUTERS/Joshua Roberts/File Photo
Foto: Eks Penasihat Keamanan Gedung Putih era Trump, John Bolton (REUTERS/Joshua Roberts/File Photo)
Teheran -

Iran menepis tudingan Amerika Serikat (AS) bahwa pihaknya telah merencanakan pembunuhan terhadap mantan penasihat keamanan nasional Gedung Putih era Donald Trump, John Bolton sebagai balasan atas pembunuhan salah satu komandan utamanya, Qassem Soleimani. Iran menyebut tuduhan AS itu fiksi belaka dan tanpa bukti.

"Departemen Kehakiman AS telah membuat tuduhan tanpa memberikan bukti yang sah, menciptakan karya fiksi baru," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanani dilansir dari AFP, Kamis (11/8/2022).

"Kali ini mereka datang dengan plot yang melibatkan individu seperti Bolton yang karir politiknya telah gagal. Republik Islam memperingatkan tindakan apa pun yang menargetkan warga Iran dengan menggunakan tuduhan konyol," imbuh dia.

Tuduhan AS itu datang dalam masa genting pembicaraan tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara besar yang telah ditinggalkan Washington pada 2018 tetapi mengatakan ingin bergabung kembali.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) mendakwa anggota Korps Pengawal Revolusi Iran merencanakan pembunuhan terhadap John Bolton, penasihat keamanan nasional untuk mantan Presiden Donald Trump. Rencana itu gagal lantaran pembunuh bayaran yang disewa merupakan informan FBI.

Dilansir dari AFP, Kamis (11/8/2022), Departemen Kehakiman menuduh Shahram Poursafi alias Mehdi Rezayi (45) dari Teheran, kemungkinan termotivasi untuk membunuh Bolton sebagai pembalasan atas kematian Qassem Soleimani, Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS pada Januari 2020.

Pengadilan AS mengungkap bahwa pada bulan Oktober, Poursafi yang berada di Iran, mengontak seseorang tak dikenal di Negeri Paman Sam. Poursafi saat itu mengaku ingin memesan foto Bolton.

Orang tak dikenal itu kemudian memberikan kontak lain kepada warga Iran itu, yang kemudian diminta untuk membunuh Bolton dengan imbalan 300 ribu dolar AS. Poursafi bahkan menawarkan imbalan 1 juta dolar AS jika orang tersebut bisa membunuh target kedua.

Berkas pengadilan tidak membeberkan siapa target yang dimaksud. Namun, menurut media AS, target kedua itu adalah Menteri Luar Negeri era Trump Mike Pompeo.

Nahasnya, orang yang dikontak oleh Poursafi merupakan informan dari FBI.

FBI dalam pernyataan tertulisnya menjelaskan bagaimana informan tersebut menghilang selama berbulan-bulan ketika para penyelidik tampaknya mencari informasi lebih lanjut tentang Poursafi, organisasi dan atasannya, dan jaringan terpisahnya di dalam Amerika Serikat.

Poursafi didakwa dengan menggunakan fasilitas perdagangan antarnegara untuk menyewa pembunuh bayaran dengan ancaman 10 tahun penjara. Dia juga didakwa menyediakan dan berusaha memberikan dukungan material untuk rencana pembunuhan transnasional, yang diancam dengan hukuman 15 tahun.

Departemen kehakiman mengatakan Poursafi saat ini masih buron dan mungkin berada di Iran. FBI pada hari Rabu telah merilis poster 'most wanted' Poursafi.

"Jika Iran menyerang salah satu warga negara kami, termasuk mereka yang terus melayani Amerika Serikat atau mereka yang sebelumnya bertugas, Iran akan menghadapi konsekuensi berat," kata Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan setelah dakwaan diumumkan.

Simak juga 'Loyalis Trump Tebar Ancaman ke Petugas FBI':

[Gambas:Video 20detik]



(mae/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT