ADVERTISEMENT

Rusia Jadi Ancaman, NATO Akan Tambah Pasukan hingga 300.000!

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 28 Jun 2022 13:15 WIB
NATO General Secretary Jens Stoltenberg gestures as he speaks during a press conference to present the next North Atlantic Council (NAC) Ministers of Foreign Affairs meeting, at the NATO headquarters in Brussels on April 5, 2022. (Photo by Franois WALSCHAERTS / AFP)
Sekjen NATO Jens Stoltenberg (dok. AFP/FRANCOIS WALSCHAERTS)
Brussels -

Aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) akan meningkatkan jumlah pasukannya dalam kondisi siaga tinggi. Penambahan jumlah pasukan NATO itu disebut bisa mencapai lebih dari tujuh kali lipat atau lebih dari 300.000 personel saat kondisi siaga tinggi.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (28/6/2022), rencana penambahan pasukan NATO itu diungkapkan saat negara-negara anggota bersiap mengadopsi strategi baru yang menggambarkan Rusia sebagai ancaman langsung dengan invasi ke Ukraina memasuki bulan keempat.

Invasi Rusia ke Ukraina sejak Februari lalu telah memicu pergeseran geopolitik besar di Barat, dengan memicu negara-negara yang tadinya netral seperti Finlandia dan Swedia untuk bergabung NATO. Ukraina yang terus diinvasi Rusia juga telah mengamankan status kandidat anggota Uni Eropa.

"Rusia telah menjauhi kemitraan dan dialog yang coba dibangun NATO dengan Rusia selama bertahun-tahun," ujar Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg dalam pernyataan kepada wartawan di Brussels, Belgia, menjelang pertemuan puncak NATO akhir pekan ini di Madrid, Spanyol.

"Mereka telah memilih konfrontasi daripada dialog. Kami menyesalkan itu -- tapi tentu saja, kami perlu menanggapi kenyataan itu," ucapnya.

Pertemuan puncak NATO pada 28-30 Juni digelar pada momen penting bagi aliansi itu usai kegagalan di Afghanistan dan perselisihan internal selama kepemimpinan mantan Presiden AS Donald Trump, yang menarik AS keluar dari aliansi tersebut.

Stoltenberg menyatakan bahwa NATO di masa depan akan memiliki 'lebih dari 300.000' tentara dalam kondisi siaga tinggi. Angka itu meningkat tujuh kali lipat jika dibandingkan dengan 40.000 tentara yang saat ini tergabung dalam pasukan cepat tanggap NATO yang sudah ada, NATO Response Force (NRF).

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT