ADVERTISEMENT

International Updates

Erdogan Nyapres Lagi, Geger Pesawat Misterius Lintasi Eropa Tanpa Izin

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 10 Jun 2022 17:16 WIB
President of Turkey Recep Tayyip Erdogan makes a statement after chairing the cabinet meeting in Ankara, on December 14, 2020. (Photo by Adem ALTAN / AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AFP/ADEM ALTAN)
Jakarta -

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan akan mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun 2023 mendatang. Dia pun menepis desas-desus tentang pemilu yang dipercepat di negara yang dilanda krisis ekonomi itu.

Dilansir dari kantor berita AFP, Jumat (10/6/2022), ini adalah pertama kalinya Erdogan yang telah berkuasa sejak 2003, secara resmi mengumumkan pencalonannya yang telah diperkirakan secara luas.

"Izinkan saya menyampaikannya di sini. Tayyip Erdogan adalah kandidat dari Aliansi Rakyat", kata Erdogan saat acara partai di kota Izmir, Turki barat pada Kamis (9/6), mengacu pada aliansi antara partai konservatif yang berkuasa, AKP dan partai sayap kanan MHP.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Jumat (10/6/2022):

- NASA Bentuk Tim Ilmuwan Khusus Pelajari UFO

Badan Antariksa Amerika Serikat (AS) atau NASA berencana membentuk sebuah tim ilmuwan yang secara khusus akan memeriksa dan mempelajari 'fenomena udara tak teridentifikasi' atau yang biasa disebut sebagai UFO. Ini menjadi pertanda terbaru untuk keseriusan pemerintah AS terhadap isu UFO.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (10/6/2022), NASA mengatakan fokus tim khusus itu nantinya antara lain, mengidentifikasi data yang tersedia, cara-cara terbaik untuk mengumpulkan data di masa depan dan bagaimana mereka bisa menggunakan informasi itu untuk memajukan pemahaman ilmiah tentang isu tersebut.

NASA menunjukkan David Spergel, yang pernah memimpin departemen astrofisika Universitas Princeton, untuk memimpin tim ilmiah dan Daniel Evans, seorang peneliti senior dalam Direktorat Misi Ilmiah NASA, untuk mengatur penelitian itu.

Dalam pernyataannya, Evans menjelaskan bahwa tim ilmuwan akan dibentuk pada musim gugur nanti, kemudian menghabiskan waktu sembilan bulan untuk mengembangkan laporan publik tentang temuan mereka. Disebutkan juga bahwa NASA akan menghabiskan dana mulai dari 'puluhan ribu dolar' hingga tidak lebih dari US$ 100.000 untuk upaya tersebut.

- Pemerintah Malaysia Setuju Hapus Hukuman Mati

Pemerintah Malaysia setuju untuk menghapus hukuman mati. Para aktivis menyambut baik langkah tersebut tetapi memperingatkan negara itu telah gagal memenuhi janji sebelumnya untuk memperbaiki hak-hak asasi manusia.

Dilansir dari kantor berita AFP, Jumat (10/6/2022), saat ini, hukuman mati masih berlaku untuk beberapa pelanggaran di negara Asia Tenggara tersebut, termasuk pembunuhan dan perdagangan narkoba.

Aliansi reformis yang mengambil alih kekuasaan pada 2018 sempat mengumumkan akan menghapuskan hukuman mati sepenuhnya. Namun, rencana itu terhenti karena penolakan dari saingan politik dan keluarga korban pembunuhan.

- 3 Petempur Asing di Ukraina Divonis Mati Separatis Pro-Rusia

Tiga petempur asing yang berasal dari Inggris dan Maroko dijatuhi hukuman mati oleh separatis pro-Rusia setelah tertangkap di wilayah Ukraina bagian timur. Ketiganya dituduh menjadi tentara bayaran untuk Kiev.

Lihat juga video 'Turki Tolak Ajakan Swedia Bergabung Dengan NATO, Singgung Terorisme':

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT