Rusia Sebut Tentara Ukraina Akan Diadili Sebelum Pertukaran Tahanan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 25 Mei 2022 16:49 WIB
Ukrainian servicemen sit in a bus after leaving Mariupols besieged Azovstal steel plant, near a penal colony, in Olyonivka, in territory under the government of the Donetsk Peoples Republic, eastern Ukraine, Friday, May 20, 2022. (AP Photo)
Tentara Ukraina yang menyerahkan diri diangkut dengan bus meninggalkan kota Mariupol (dok. AP Photo)
Moskow -

Otoritas Rusia menilai masih 'terlalu dini' untuk mempertimbangkan pertukaran tahanan dengan Kiev, sebelum tentara-tentara Ukraina yang pekan lalu menyerahkan diri kepada Moskow diadili.

Seperti dilansir AFP, Rabu (25/5/2022), Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrei Rudenko menyatakan Moskow akan mempertimbangkan pertukaran tahanan dengan Kiev setelah para petempur Ukraina yang menyerahkan diri 'divonis, dihukum dengan pantas'.

"Sebelum itu, semua pembicaraan soal pertukaran (tahanan) terlalu dini," sebut Rudenko dalam pernyataan kepada wartawan setempat, seperti dikutip kantor-kantor berita Rusia.

Pekan lalu, ratusan petempur Ukraina yang mempertahankan kota pelabuhan strategis Mariupol, di sebelah tenggara negara itu, menyerahkan diri setelah bertahan di dalam pabrik baja Azovstal selama berminggu-minggu. Pasukan Rusia mengepung kota itu sejak melancarkan invasinya pada akhir Februari lalu.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenko dalam pernyataannya mengklaim ada 2.439 tentara dan petempur Ukraina yang menyerahkan diri kepada pasukan Moskow. Tentara-tentara Ukraina yang menyerahkan diri itu dilaporkan dibawa ke area-area yang dikuasai pasukan Rusia.

Di antara petempur Ukraina yang menyerahkan diri itu terdapat anggota resimen Azov, yang merupakan bekas batalion sayap timur jauh yang berubah menjadi unit Garda Nasional Ukraina dan melebur ke dalam Angkatan Bersenjata Ukraina. Rusia menyebut unit resimen Azov sebagai organisasi neo-Nazi.

Otoritas Ukraina sebelumnya melontarkan harapan untuk melakukan pertukaran tahanan antara tentaranya itu dengan tahanan perang Rusia yang ditahan Kiev.

Pada Senin (23/5) waktu setempat, pengadilan Kiev menyatakan seorang tentara Rusia bernama Vadim Shishimarin (21) bersalah atas kejahatan perang, karena membunuh seorang warga sipil tak bersenjata. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Belum ada tanggapan resmi dari Rusia terkait vonis itu.

(nvc/idh)