14 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Kelompok Bersenjata di Timur Kongo

Eva Safitri - detikNews
Rabu, 11 Mei 2022 01:56 WIB
United Nations peacekeepers and Congolese forces guard an area leading to where bodies were found near to where a U.N. convoy was attacked and the Italian ambassador to Congo killed, in Nyiragongo, North Kivu province, Congo Monday, Feb. 22, 2021. The Italian ambassador to Congo Luca Attanasio, an Italian Carabineri police officer and their Congolese driver were killed Monday in an attack on a U.N. convoy in an area that is home to myriad rebel groups, the Foreign Ministry and local people said. (AP Photo/Justin Kabumba)
Ilustrasi penyerangan (Foto: AP/Justin Kabumba)
Jakarta -

Sebanyak 14 warga sipil termasuk anak-anak tewas dalam serangan terhadap kamp pengungsi di provinsi Ituri di timur Republik Demokratik Kongo. Penyerangan itu diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata CODECO.

Dilansir dari AFP, Rabu (11/5/2022), serangan itu terjadi pada hari Senin di daerah Djugu di Ituri, menurut Kivu Security Tracker (KST), pemantau kekerasan yang dihormati di wilayah yang dilanda konflik.

Dia menambahkan bahwa mereka mencurigai gerilyawan dari kelompok bersenjata etnis yang disebut CODECO berada di balik serangan itu.

CODECO -- sebutan untuk Koperasi Pembangunan Kongo -- adalah sekte politik-keagamaan yang mengklaim mewakili kepentingan kelompok etnis Lendu.

Ini dianggap sebagai salah satu milisi paling mematikan yang beroperasi di timur negara itu, yang dipersalahkan atas sejumlah pembantaian etnis.

Jules Tsuba, presiden asosiasi kelompok masyarakat sipil di Djugu mengatakan sebagian besar korban dalam serangan Senin adalah anak-anak dan menekankan bahwa jumlah korban tewas masih bersifat sementara.

"Sungguh mengejutkan melihat anak-anak dicincang dengan parang," katanya.

Ernest Dhekana, kepala cabang Palang Merah setempat mengatakan kepada AFP bahwa 10 anak berusia antara enam bulan dan 17 tahun termasuk di antara yang tewas. Dua wanita dan dua pria juga tewas.

Ituri dan provinsi tetangga Kivu Utara telah diperintah oleh pasukan keamanan sejak Mei tahun lalu, dalam upaya untuk membendung serangan. Pembantaian sipil tetap berlanjut.

(eva/eva)