Serangan Houthi ke Fasilitas Minyak Arab Saudi Bahayakan Pasokan Global!

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 22 Mar 2022 14:34 WIB
FILE - In this Sept. 21, 2019, file photo, Shiite Houthi tribesmen hold their weapons as they chant slogans during a tribal gathering showing support for the Houthi movement, in Sanaa, Yemen. The United Nations Human Rights Office of the High Commissioner replaced its chief in Yemen, Elobaid Ahmed Elobaid, nearly nine months after the Houthis who control northern Yemen denied him entry, documents dated Tuesday, June 9, 2020 obtained by The Associated Press show. (AP Photo/Hani Mohammed, File)
Ilustrasi -- Pemberontak Houthi di Yaman (AP Photo/Hani Mohammed, File)
Riyadh -

Arab Saudi, yang merupakan pengekspor minyak mentah utama, memperingatkan bahwa serangan-serangan yang dilancarkan kelompok pemberontak Houthi di Yaman terhadap fasilitas minyak di wilayahnya memberikan 'ancaman langsung' bagi pasokan global.

Seperti dilansir AFP, Selasa (22/3/2022), Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan bahwa pemerintah Saudi 'tidak akan bertanggung jawab' atas kurangnya pasokan minyak sehubungan dengan serangan-serangan pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Disebutkan bahwa serangan lintas perbatasan yang dilancarkan pemberontak Houthi dari Yaman ke wilayah Saudi telah mengancam keamanan pasokan minyak.

"Ancaman langsung bagi keamanan pasokan minyak dalam keadaan yang sangat sensitif yang disaksikan oleh pasar energi global," sebut Kementerian Luar Negeri Saudi dalam pernyataannya.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Saudi itu disampaikan sehari setelah Kementerian Energi Saudi mengakui penurunan sementara untuk produksi minyak, usai pemberontak Houthi menyerang kilang minyak YASREF di Kota Industrial Yanbu, Saudi, dengan drone bersenjata.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Saudi mendesak masyarakat internasional untuk 'berdiri teguh' melawan pemberontak Houthi.

Harga minyak berulang kali melonjak hingga di atas US$ 100 (Rp 1,4 juta) per barel, yang didorong oleh kekhawatiran pasokan yang berpusat pada invasi Rusia ke Ukraina. Harga minyak kembali naik lebih tinggi pada Senin (21/3) waktu setempat.