AS Minta China Longgarkan Aturan Karantina Diplomatnya

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 28 Jan 2022 18:35 WIB
FILE - A police officer patrols outside the U.S. Embassy in Beijing, China, Tuesday, Nov. 9, 2021. China on Wednesday, Jan. 26, 2022 expressed
Ilustrasi -- Polisi berjaga di luar Kedutaan Besar AS di Beijing, China (AP Photo/Ng Han Guan, File)
Washington DC -

Amerika Serikat (AS) meminta China untuk melonggarkan aturan karantina virus Corona (COVID-19) untuk para diplomatnya. Hal ini diumumkan setelah China menuduh AS berupaya menyabotase Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di Beijing bulan depan.

Seperti dilansir AFP, Jumat (28/1/2022), China yang menegakkan kebijakan nol-COVID telah memberlakukan aturan karantina wajib setidaknya selama 14 hari untuk seluruh penumpang internasional yang masuk ke wilayahnya dan berulang kali menerapkan lockdown pada area-area utama.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, menyatakan bahwa AS telah mulai menggelar diskusi dengan China soal aturan karantina dan tes Corona yang dianggap 'berlawanan dengan hak istimewa dan kekebalan diplomatik'.

"Kami merekomendasikan apa yang kami pikir sebagai serangkaian opsi yang beralasan yang akan konsisten dengan langkah mitigasi COVID-19 dan pada saat bersamaan akan selaras dengan norma-norma diplomatik internasional," ucap Price.

Disebutkan juga oleh Price bahwa tidak ada perubahan terhadap status operasional Kedutaan Besar AS di Beijing meski ada situasi ini.

Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS menyatakan tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan para diplomat dan keluarganya di China meninggalkan negara itu, karena aturan pengendalian pandemi Corona yang dianggap intrusif atau mengganggu.

Dalam tanggapannya, media pemerintah China, Global Times, memperingatkan agar tidak ada otorisasi apapun oleh Departemen Luar Negeri China untuk mengizinkan staf atau keluarganya meninggalkan negara itu. Global Times bahkan menyebut China sebagai 'tempat paling aman di dunia'.

"Itu (langkah meninggalkan China-red) hanya akan memicu kepanikan, memfitnah upaya anti-epidemi China dan mengganggu keberhasilan China sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin," sebut Global Times dalam laporannya.