Kongres AS Desak PBB Rilis Laporan Xinjiang Sebelum Olimpiade Beijing

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 11:50 WIB
Foto: Salah satu kamp reedukasi di utara Kashgar di wilayah Xinjiang barat laut China, yang diyakini sebagai tempat sebagian besar etnis minoritas Muslim ditahan.
Xinjiang (Foto: Greg Baker/AFP/Getty Images)
Jakarta -

Para anggota parlemen Amerika Serikat mendesak kepala hak asasi manusia PBB untuk merilis laporan tentang Xinjiang, sebelum dimulainya Olimpiade Musim Dingin Beijing.

Diketahui bahwa Washington menuduh China melakukan genosida terhadap minoritas Muslim Uighur di wilayah Xinjiang.

Dilansir dari kantor berita AFP, Rabu (19/1/2022), menurut Senator Jeff Merkley dan Anggota DPR AS, James McGovern, dua tokoh terkemuka Partai Demokrat yang memimpin Komite Eksekutif Kongres tentang China, penerbitan laporan tersebut sebelum Olimpiade dimulai pada 4 Februari akan "menegaskan kembali fakta bahwa tidak ada negara yang berada di luar pengawasan atau di atas hukum internasional."

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, yang merupakan mantan presiden Chile, telah meminta Beijing untuk "akses yang berarti dan tanpa hambatan" ke Xinjiang selama bertahun-tahun. Namun, sejauh ini tidak ada kunjungan seperti itu yang dimungkinkan.

Sebelumnya pada pertengahan Desember 2021 lalu, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia telah mengindikasikan bahwa laporan mengenai Xinjiang dapat dirilis dalam waktu"beberapa minggu."

Namun, para aktivis hak asasi manusia meminta PBB untuk bersikap tegas.

Beberapa organisasi hak asasi menuduh China telah mengurung setidaknya satu juta warga Muslim di Xinjiang.

Beijing menyangkal angka tersebut dan menggambarkan kamp-kamp itu sebagai "pusat pelatihan kejuruan" untuk mendukung upaya memerangi ekstremisme agama.

Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Inggris telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengirim perwakilan resmi ke Olimpiade karena "genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung di Xinjiang dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya."

Meski demikian, para atlet dari negara-negara tersebut akan ikut serta dalam kompetisi tersebut.

(ita/ita)