Eks Pengawal Presiden Prancis Dibui 3 Tahun Gegara Serang Demonstran

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 06 Nov 2021 10:58 WIB
FILE - Alexandre Benalla, a former security aide to President Emmanuel Macron leaves the court house on the first day of trial in Paris, Monday, Sept. 13, 2021. Benalla who triggered a political crisis by beating a protester at a 2018 May Day march was convicted Friday of illegal violence and other offenses and sentenced to spend a year under house arrest. He was also convicted of illegally carrying a weapon over a gun he had at a 2017 Macron campaign event, and illegal use of diplomatic passports after he left the presidents service. (AP Photo/Francois Mori, File)
Alexandre Benalla (AP Photo/Francois Mori, File)
Paris -

Mantan pengawal Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena menyerang dua demonstran saat unjuk rasa antikapitalis tahun 2018. Insiden itu memberikan rasa malu yang mendalam bagi Macron.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (6/11/2021), Alexandre Benalla juga dinyatakan bersalah atas dakwaan memalsukan dokumen dan membawa senjata api secara ilegal.

Namun Benalla tidak akan mendekam di penjara setelah pengadilan menangguhkan masa hukumannya selama dua tahun -- dari tiga tahun penjara -- dan memerintahkannya memakai gelang elektronik selama satu tahun.

Macron langsung memecat Benalla setelah kemunculan video yang menunjukkan Benalla menyerang seorang pemuda dan menarik seorang gadis di lehernya dalam unjuk rasa Hari Buruh di Paris tahun 2018 lalu.

Benalla yang kini berusia 30 tahun, mengenakan helm polisi saat insiden penyerangan terjadi, meskipun dia saat itu hanya diberi izin menghadiri unjuk rasa sebagai pemantau.

Skandal yang disebut 'Benallagate' mencuat sebagai ujian besar pertama bagi kepresidenan Macron, yang dituduh menutup-nutupi karena tidak melaporkan Benalla ke polisi hingga surat kabar terkemuka Prancis, Le Monde, mengungkapkan keberadaan rekaman video insiden itu dua bulan usai kejadian.

Benalla menyangkal seluruh dakwaan yang dijeratkan terhadapnya dan berdalih dirinya bertindak 'secara refleks' untuk membantu polisi menangkap demonstran yang rusuh.