International Updates

Erdogan Batal Hadiri KTT COP26, Kematian Global Akibat Corona Tembus 5 Juta

Rita Uli Hutapea - detikNews
Selasa, 02 Nov 2021 18:36 WIB
Turkeys President Recep Tayyip Erdogan looks up during a joint news conference with German Chancellor Angela Merkel following their meeting at Huber Villa presidential palace, in Istanbul, Turkey, Saturday, Oct. 16, 2021. The leaders discussed Ankaras relationship with Germany and the European Union as well as regional issues including Syria and Afghanistan. (AP Photo/Francisco Seco)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Foto: AP/Francisco Seco)
Jakarta -

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, batal menghadiri konferensi iklim global di Glasgow, Skotlandia. Penyebabnya, otoritas Inggris gagal memenuhi tuntutan pengaturan keamanan untuk pemimpin Turki selama berada di Glasgow.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (2/11/2021), kepala negara dan pemerintahan dari berbagai negara menghadiri konferensi iklim global atau KTT COP26 yang dianggap penting untuk mencegah dampak terburuk dari perubahan iklim.

Erdogan dijadwalkan akan bergabung dengan mereka di Glasgow setelah menghadiri KTT G20 di Roma, Italia, pada akhir pekan. Namun ternyata, Erdogan justru pulang ke negaranya dan telah mendarat kembali di Turki sesaat setelah Senin (1/11) tengah malam waktu setempat.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (2/11/2021):

- Dihajar Corona, Dokter-dokter di Rusia Tertekan Luar Biasa!

Otoritas Rusia memperingatkan bahwa para dokter di negara tersebut tengah berada di bawah tekanan 'luar biasa' karena melonjaknya kasus virus Corona (COVID-19) beberapa waktu terakhir. Lonjakan kasus itu bahkan membuat ibu kota Moskow di-lockdown selama masa liburan nasional demi membatasi penularan.

Seperti dilansir AFP, Selasa (2/11/2021), situasi di Moskow pada awal pekan ini cenderung sunyi dengan kebanyakan pusat-pusat bisnis ditutup dan layanan non-esensial dihentikan mulai 28 Oktober hingga 7 November mendatang.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menuturkan kepada wartawan setempat bahwa para dokter di zona merah tengah menghadapi 'tekanan fisik dan emosional yang ekstrem' dengan melonjaknya jumlah kasus Corona beberapa waktu terakhir.

"Tentu saja situasinya tidak mudah. Tempat-tempat tidur terisi sebagian besar, dan beberapa hari terakhir situasinya tidak menjadi lebih muda," sebut Peskov.

- Jumlah Kematian Akibat Corona di Dunia Tembus 5 Juta, AS Tertinggi!

Sedikitnya lima juta orang telah meninggal di seluruh dunia akibat COVID-19 sejak penyakit itu pertama kali muncul di China hampir dua tahun lalu.

Demikian menurut penghitungan dari sumber resmi yang dikumpulkan oleh kantor berita AFP.

Jumlah kematian akibat Corona hingga Senin (1/11) waktu setempat itu terjadi hampir empat bulan setelah empat juta kematian tercatat. Angka ini tercatat ketika tingkat kematian melambat berkat peluncuran vaksinasi global di mana miliaran orang telah divaksin.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Selasa (2/11/2021), sementara jumlah kematian harian di seluruh dunia turun di bawah 8.000 untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun pada awal Oktober, masih ada titik-titik hitam secara global atau negara-negara yang mencatat kematian tertinggi.

- Serangan Rudal Houthi Hantam Masjid di Yaman, 22 Orang Tewas

Sebuah serangan rudal yang dilancarkan kelompok pemberontak Houthi dilaporkan mengenai sebuah masjid di kota Marib, Yaman. Sedikitnya 22 orang, termasuk anak-anak, tewas akibat serangan tersebut.