Round-Up

Junta Myanmar Tolak Disalahkan Usai Serangan Hancurkan Puluhan Rumah

Tim Detikcom - detikNews
Minggu, 31 Okt 2021 20:05 WIB
YANGON, MYANMAR - FEBRUARY 17: Protesters chant solgans and wave flags during an anti-coup protest at Sule Square on February 17, 2021 in downtown Yangon, Myanmar. Armored vehicles continued to be seen on the streets of Myanmars capital, but protesters turned out despite the military presence. The military junta that staged a coup against the elected National League for Democracy (NLD) government moved to keep the countrys de-facto leader Aung San Suu Kyi under house arrest after she was charged with violations of import-export and Covid prevention laws. (Photo by Hkun Lat/Getty Images)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Hkun Lat)
Jakarta -

Junta Myanmar menolak disalahkan usai serangan yang terjadi di kota Thantlang di negara bagian Chin Barat beberapa waktu lalu. Bahkan junta menuduh para pejuang anti-kudeta terlibat.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (31/10/2021) pasukan pertahanan rakyat atau people's defence forces (PDF) bermunculan di seluruh negeri untuk menghadapi junta pasca kudeta Februari. Akibatnya, terjadi peningkatan serangan dan pembalasan di Myanmar.

Menurut media lokal, Khit Thit dan The Chindwin, peristiwa serangan di kota Thantlang, negara bagian Chin barat terjadi Jumat (29/10) waktu setempat. Pasukan junta awalnya terlibat konfrontasi dengan pasukan pertahanan diri setempat.

Akibat peristiwa tersebut, puluhan rumah terbakar, termasuk kantor Badan Amal Save the Children.

Juru bicara Junta, Zaw Min Tun, mengatakan kepada media lokal bahwa peran militer dalam penghancuran Thantlang adalah "tuduhan tak berdasar".

"Pasukan keamanan dan pegawai negeri kami mencoba menghentikan api, tetapi mereka tidak dapat melakukannya karena PDF itu menyerang mereka," katanya, seraya menambahkan bahwa satu tentara tewas dalam huru-hara itu.

"Itu adalah PDF yang membakar (kota), bukan Tatmadaw (militer) kami," katanya.

Dalam pernyataannya, Save the Children mengatakan setidaknya 100 bangunan diperkirakan telah hancur akibat kebakaran, yang dilaporkan terjadi sekitar pukul 11:00 pagi setelah penggunaan senjata berat.

"Api terus membakar kota dan tidak ada petugas pemadam kebakaran yang tersedia untuk mengendalikan kobaran api," kata badan amal tersebut, seraya menambahkan salah satu kantornya telah rusak.