Putra Mahkota Saudi Dituduh Kirim Tim untuk Bunuh Eks Mata-mata

Tim detikcom - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 16:03 WIB
Newcastle United resmi diakuisisi konsorsium milik Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Sosoknya yang kontroversial kembali disorot usai akuisisi Newcastle
Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (dok. Getty Images)
Washington DC -

Seorang mantan mata-mata top Arab Saudi menuduh Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), mengerahkan tim pembunuh bayaran untuk membunuhnya saat eks mata-mata ini tinggal dalam pengasingan di Kanada.

Seperti dilansir AFP, Senin (25/10/2021), tuduhan itu disampaikan Saad al-Jabri, mantan mata-mata atau pejabat intelijen Saudi yang pernah menjadi penghubung dinas intelijen Saudi dengan negara Barat, dalam program '60 Minutes' yang ditayangkan televisi Amerika Serikat (AS), CBS News, Minggu (24/10) waktu setempat.

Al-Jabri mengklaim dirinya menjadi target usai melarikan diri dari Saudi menyusul perebutan kekuasaan oleh MBS tahun 2017 lalu.

Dalam wawancara dengan program '60 Minutes', Al-Jabri menyebut seorang rekannya pada dinas intelijen Timur Tengah memperingatkan dirinya bisa bernasib sama dengan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, yang dibunuh oleh skuad pembunuhan di dalam Konsulat Saudi di Istanbul, Turki tahun 2018.

"Peringatan yang saya terima, jangan berada di dekat misi Saudi manapun di Kanada. Jangan pergi ke konsulat. Jangan pergi ke kedutaan... Anda berada di daftar teratas," tutur Al-Jabri dalam wawancara itu.

Dia menuturkan bahwa tim yang ditugaskan membunuh dirinya tiba di Kanada pada Oktober 2018, namun kemudian dideportasi karena berbohong pada pejabat bea cukai dan kedapatan membawa benda-benda mencurigakan. Tidak disebutkan lebih lanjut dari mana Al-Jabri mendapatkan informasi tersebut.

AFP tidak bisa memverifikasi secara independen klaim Al-Jabri tersebut. Kementerian Luar Negeri Kanada belum memberikan komentarnya.