Putra Mahkota Saudi Disebut Bicara Soal Bunuh Raja Sebelum Ayahnya Berkuasa

Tim detikcom - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 13:13 WIB
Newcastle United resmi diakuisisi konsorsium milik Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Sosoknya yang kontroversial kembali disorot usai akuisisi Newcastle
Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (AP Photo/Jacquelyn Martin, Pool, File)
Washington DC -

Seorang mantan pejabat keamanan senior Arab Saudi mengungkapkan informasi mengejutkan soal Putra Mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS). Dia mengklaim MBS pernah berbicara soal pembunuhan seorang Raja Saudi yang masih aktif menjabat sebelum ayahnya, Raja Salman, berkuasa.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (25/10/2021), hal tersebut diungkapkan Saad al-Jabri, mantan pejabat intelijen Saudi yang pernah membantu mengawasi upaya kontraterorisme gabungan dengan Amerika Serikat (AS), dalam wawancara dengan program '60 Minutes' yang ditayangkan Minggu (24/10) waktu setempat.

Al-Jabri yang kini tinggal di pengasingan di Kanada, mengklaim bahwa pada tahun 2014 dalam pertemuan dengan Pangeran Mohammed bin Nayef, yang saat itu menjabat kepala intelijen dan menjabat Menteri Dalam Negeri, MBS yang masih muda sesumbar mengatakan dirinya bisa membunuh Raja Abdullah untuk memberi jalan bagi ayahnya agar naik takhta.

Pada saat itu, MBS belum memegang jabatan penting dalam pemerintahan, namun menjadi gatekeeper untuk istana ayahnya yang menjadi ahli waris takhta. Raja Salman naik takhta pada Januari 2015 setelah Raja Abdullah, yang merupakan saudara tirinya, meninggal dunia secara wajar.

"Dia (MBS-red) memberitahunya, 'Saya ingin membunuh Raja Abdullah. Saya mendapatkan cincin racun dari Rusia. Cukup bagi saya untuk berjabat tangan dengannya dan dia akan selesai'," klaim Al-Jabri dalam wawancara itu.

Al-Jabri menuturkan bahwa intelijen Saudi menanggapi dengan serius ancaman itu. Menurutnya, isu tersebut ditangani dalam lingkup keluarga Kerajaan Saudi. Namun, Al-Jabri mengklaim bahwa dirinya masih memiliki rekaman video untuk pertemuan itu.

Al-Jabri memanfaatkan wawancara dengan program '60 Minutes' ini untuk memperingatkan MBS bahwa dirinya merekam sebuah video yang mengungkapkan lebih banyak rahasia Kerajaan Saudi dan beberapa rahasia AS. Sebuah klip singkat tanpa suara ditunjukkan sebentar kepada koresponden '60 Minutes', Scott Pelley.

Video tersebut, menurut Al-Jabri, bisa dirilis ke publik jika dirinya terbunuh.

Simak juga 'Atasi Pemanasan Global, Arab Saudi Netralisasi Emisi Gas Rumah Kaca':

[Gambas:Video 20detik]