Kakak Kim Jong-Un yang Dibunuh di Malaysia Disebut Informan Intelijen Korsel

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 08:04 WIB
FILE PHOTO: North Korean heir-apparent Kim Jong Nam emerges from a bus as he is escorted by Japanese authorities upon his deportation from Japan at Tokyos Narita international airport May 4, 2001.    REUTERS/Eriko Sugita/File Photo
Kim Jong Nam (foto tahun 2001) (Foto: REUTERS/Eriko Sugita/File Photo)
Seoul -

Kasus pembunuhan, Kim Jong-Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un, yang dibunuh di Malaysia, masih berselimutkan misteri. Kabar terbaru, Kim Jong-Nam disebut bekerja untuk Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan.

Dilansir dari The Korea Times, Jumat (22/10/2021), hal itu dilaporkan oleh media Korea Selatan, SBS. SBS mengaku telah mengonfirmasi sejumlah mantan dan pejabat NIS bahwa Kim Jong-Nam telah memberikan informasi tentang pejabat tinggi Korea Utara termasuk Kim Jong-un setidaknya selama lima hingga enam tahun sebelum dia dibunuh.

"Kim memberi NIS informasi tentang tren di dalam pemerintahan dan kekuasaan pejabat tinggi rezim, termasuk Kim Jong Un, selama lima atau enam tahun sebelum kematiannya," lapor SBS.

Saudara tiri yang terasing itu adalah putra tertua dari mantan pemimpin Korea Utara Kim Jong-il, dan pernah dianggap sebagai pewaris rezim. Namun, dia kehilangan kepercayaan ayahnya setelah dia terlibat dalam serangkaian insiden bermasalah, termasuk mencoba memasuki Jepang dengan paspor palsu pada tahun 2001. Saat itu, Kim Jong-Nam mengaku mencoba mengunjungi Tokyo Disneyland; dan sejak itu, dia tinggal di Makau, dan kerap bepergian ke negara lain.

Pada Februari 2017, Kim Jong-Nam berada di Bandara Internasional Kuala Lumpur ketika dua perempuan - Siti Aisyah dari Indonesia dan Doan Thi Huong dari Vietnam - tiba-tiba mendekatinya dan mengoleskan bahan kimia mematikan XV di wajahnya. Kim Jong-Nam meninggal dalam waktu satu jam, dan serangan berani yang terjadi di siang bolong di antara kerumunan besar mengejutkan dunia.

Keduanya mengaku hanya diajak melakukan adegan lelucon acara reality show dan dibayar RM 400 atau setara dengan Rp 1,2 juta untuk mengisengi Jong-Nam. Siti dan Doan pun kini telah dibebaskan usai jaksa mencabut dakwaan pembunuhan terhadap keduanya.

Kembali ke laporan SBS, agen NIS disebut kerap menghubungi Kim Jong-Nam di 'negara ketiga', dan memberinya kompensasi uang.

Laporan itu menambahkan bahwa NIS memiliki informasi dasar tentang keberadaan Kim Jong-Nam dan terkadang dia langsung menghubungi agen mata-mata melalui email.

Kala itu, ada spekulasi bahwa Kim Jong-Nam mungkin mencari suaka di Korea Selatan. Namun, SBS melaporkan bahwa mantan dan pejabat saat ini yang dihubungi menolaknya, dengan mengatakan bahwa hal itu akan membebani hubungan antar-Korea.

Kim Jong-Nam juga pernah dilaporkan sebagai informan CIA. Simak di halaman selanjutnya.

Lihat juga Video: Korea Utara Peringati 76 Tahun Partai Buruh

[Gambas:Video 20detik]