2 Kecelakaan Pesawat dalam Dakwaan 100 Tahun Bui untuk Eks Pilot Boeing

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 10:51 WIB
FILE - In this April 10, 2019, file photo a Boeing 737 MAX 8 airplane being built for India-based Jet Airways lands following a test flight at Boeing Field in Seattle. Boeing is reassuring airline industry leaders about the safety of the grounded 737 Max as it continues working to get the plane back in service. The aircraft maker invited about 30 union officials, safety experts and others to the Seattle area for two days of meetings with Boeing executives and factory tours. (AP Photo/Ted S. Warren, File)
2 Kecelakaan Pesawat dalam Dakwaan 100 Tahun Bui untuk Eks Pilot Boeing -- ilustrasi (Foto: AP Photo/Ted S. Warren, File)
Jakarta -

Mantan pilot Boeing 737 MAX, Mark Forkner, didakwa soal sistem kontrol penerbangan otomatis (MCAS) yang diyakini menyebabkan dua kecelakaan maut Boeing 737 MAX beberapa tahun lalu. Akibatnya, pesawat tersebut sempat ditangguhkan penerbangannya di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Australia, hingga Selandia Baru.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (15/10/2021), Forkner (49) resmi dijerat dua dakwaan penipuan terkait suku cadang pesawat dalam perdagangan antarnegara dan empat dakwaan penipuan telekomunikasi atau internet (wire fraud).

Jaksa federal AS menyatakan Forkner akan dihadirkan dalam sidang pada Jumat (15/10) waktu setempat di Fort Worth, Texas. Jika terbukti bersalah atas seluruh dakwaan itu, Forkner terancam hukuman maksimum 100 tahun penjara.

Dakwaan yang menjerat Forkner menuduhnya telah menyembunyikan informasi tentang sistem kontrol penerbangan yang diaktifkan secara keliru dan mendorong hidung pesawat Boeing 737 MAX ke bawah yang jatuh di Indonesia tahun 2018 dan di Ethiopia tahun 2019 lalu. Total 346 orang tewas dalam dua kecelakaan itu.

Berikut ulasan soal 2 kecelakaan tersebut yang telah dirangkum detikcom.

Kecelakaan Lion Air Penerbangan JT610 di Indonesia

Kecelakaan pesawat Lion Air penerbangan JT610 terjadi pada 29 Oktober 2018 lalu sekitar pukul 06.20 WIB. Pukul 06.22 WIB, terjadi masalah kontrol pesawat (flight control) sehingga pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino sempat meminta lembaga pelayanan navigasi penerbangan AirNav kembali ke Soetta (return to base).

Sekitar pukul 06.32 WIB, pesawat hilang kontak di perairan Karawang, yang kemudian diketahui jatuh di perairan tersebut dari ketinggian 3.000 kaki.

Sebanyak 189 orang berada di dalamnya, termasuk penumpang dan awak, tidak dapat diselamatkan. Di antara yang menjadi korban adalah 20 orang yang merupakan para pejabat.

Penerbangan tersebut diketahui hendak melakukan perjalanan dari Jakarta ke Pangkal Pinang.

Diketahui pesawat dengan model Boeing 737 MAX 8 tersebut baru digunakan selama 2 bulan.

Baca selengkapnya di halaman selanjutnya

Simak juga Video: Hancurnya Dua Rumah Ditabrak Pesawat di San Diego California

[Gambas:Video 20detik]