Houthi Eksekusi Mati 9 Orang di Yaman, PBB Mengutuk!

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 14:09 WIB
FILE - In this Sept. 21, 2019, file photo, Shiite Houthi tribesmen hold their weapons as they chant slogans during a tribal gathering showing support for the Houthi movement, in Sanaa, Yemen. The United Nations Human Rights Office of the High Commissioner replaced its chief in Yemen, Elobaid Ahmed Elobaid, nearly nine months after the Houthis who control northern Yemen denied him entry, documents dated Tuesday, June 9, 2020 obtained by The Associated Press show. (AP Photo/Hani Mohammed, File)
kelompok Houthi (Foto: AP Photo/Hani Mohammed, File)
Jakarta -

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk eksekusi mati yang dilakukan Houthi terhadap sembilan orang atas dugaan keterlibatan mereka dalam pembunuhan seorang pemimpin penting kelompok pemberontak di Yaman itu.

Sebelumnya, Houthi menyatakan mereka mengeksekusi mati sembilan orang pada hari Sabtu (18/9) karena keterlibatan mereka dalam pembunuhan Saleh al-Sammad, yang merupakan kepala dewan politik tertinggi Houthi. Sammad tewas dalam serangan udara 2018 yang diklaim oleh Arab Saudi.

Kesembilan orang itu termasuk di antara 16 orang yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan Houthi atas pembunuhan tersebut.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (20/9/2021), Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres "sangat menyesalkan" eksekusi mati di Yaman tersebut. Demikian disampaikan juru bicaranya, Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa salah satu orang dilaporkan masih di bawah umur pada saat penahanan.

"Sangat mengutuk tindakan ini yang merupakan hasil dari proses peradilan yang tampaknya tidak memenuhi persyaratan pengadilan yang adil dan proses hukum di bawah hukum internasional," demikian pernyataan tersebut.

Dujarric mengatakan Guterres juga prihatin dengan serangan udara koalisi Saudi yang dilaporkan minggu ini di provinsi Shabwa, Yaman selatan "yang diduga menewaskan sedikitnya enam warga sipil dari keluarga yang sama".

Seorang pejabat pro-pemerintah setempat yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan kepada AFP bahwa setidaknya lima warga sipil, termasuk tiga wanita, "secara tidak sengaja" tewas dalam serangan udara pada hari Sabtu (18/9) ketika mereka bepergian dengan mobil mereka.