Prancis Dikabarkan Marah karena Swiss Pilih Jet Tempur AS

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 13:18 WIB
A Republican Guard pays respects after lowering the French national flag at half-mast at the Elysee Palace in Paris, France, July 15, 2016, the day after the Bastille Day truck attack in Nice. REUTERS/Philippe Wojazer
Ilustrasi (dok. REUTERS/Philippe Wojazer)
Paris -

Pemerintah Prancis membantah laporan media Swiss bahwa pertemuan yang direncanakan sejak lama antara Presiden Emmanuel Macron dengan Presiden Swiss Guy Parmelin dibatalkan karena Prancis marah setelah Swiss memutuskan membeli jet tempur buatan Amerika Serikat (AS), bukannya Prancis.

Seperti dilansir AFP, Senin (20/9/2021), laporan dua harian lokal Swiss, Le Matin Dimanche dan SonntagsZeitung menyebut Prancis membatalkan rencana pertemuan kedua kepala negara yang dijadwalkan di Paris pada November mendatang.

Dengan mengutip sumber-sumber diplomatik, kedua surat kabar Swiss menyebut otoritas Prancis memilih untuk membatalkan rencana pertemuan itu karena marah atas cara otoritas Swiss melakukan negosiasi menjelang keputusan pada Juni lalu untuk membeli 36 unit jet tempur F35A buatan Lockheed Martin.

Menurut sumber-sumber tersebut, pemerintah Prancis menuduh Kementerian Pertahanan Swiss tetap melanjutkan negosiasi dengan manufaktur lainnya, termasuk dengan Dassault yang merupakan produsen jet tempur Prancis Rafale, saat keputusan telah dicapai Swiss untuk membeli jet-jet tempur AS.

Baik pemerintah Prancis maupun kantor Presiden Parmelin pada Kementerian Urusan Perekonomian menyangkal rencana pertemuan itu dibatalkan, dan menekankan bahwa penjadwalan belum selesai.

"(Pertemuan) Itu tidak pernah dibatalkan dan terutama bukan karena alasan-alasan yang disebutkan," demikian penegasan kantor kepresidenan Prancis, Elysee Palace, dalam pernyataannya.

Dijelaskan Elysee Palace bahwa Presiden Macron pada prinsipnya telah menyetujui pada awal tahun ini untuk bertemu dengan Presiden Parmelin, dan bahwa Swiss menawarkan untuk bertemu pada November.

"Kami memberitahu mereka musim panas ini bahwa November akan sulit," sebut Elysee Palace, sembari menambahkan bahwa tanggal pasti untuk pertemuan kedua kepala negara itu 'belum ditetapkan'.