Susul Menlu, Menhan Belanda Mundur Usai Dikritik soal Evakuasi Afghanistan

Haris Fadhil - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 22:35 WIB
Outgoing defense minister Ank Bijleveld speaks during a statement at her ministry after her party leadership held crisis consultations, in The Hague, on September 17, 2021. - Dutch Defence Minister Ank Bijleveld has resigned, over her handling of the Afghanistan evacuation crisis, a day after the debacle also pushed the foreign minister out of the door. (Photo by Bart Maat / ANP / AFP) / Netherlands OUT
Foto: Ank Bijleveld (AFP/BART MAAT)
Den Haag -

Menteri Pertahanan Belanda, Ank Bijleveld, mengundurkan diri. Dia mundur usai dikritik soal penanganannya terhadap krisis evakuasi Afghanistan.

Dilansir dari AFP, Jumat (17/9/2021), Bijleveld awalnya menolak untuk mundur tetapi akhirnya tunduk pada tekanan setelah parlemen secara resmi mengecamnya atas bencana yang menyebabkan puluhan penerjemah terdampar di Afghanistan.

"Saya memberi tahu partai dan Perdana Menteri saya bahwa saya akan meminta Raja untuk menerima pengunduran diri saya," kata Bijleveld kepada wartawan di kementerian pertahanan, merujuk pada Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte.

"Saya tidak ingin menghalangi pekerjaan penting, ujarnya sambil menyatakan rekan-rekannya yang masih berusaha mengeluarkan orang dari Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Belanda, Sigrid Kaag, lebih dulu mengundurkan diri setelah dikutuk oleh parlemen atas kegagalan pemerintah untuk mengevakuasi beberapa warga Afghanistan. Kaag telah membela penanganannya terhadap krisis tersebut tetapi mengakui kalau pemerintah memiliki beberapa 'titik buta' tentang situasi yang dialami Belanda dengan negara-negara lain.

Para menteri Belanda adalah beberapa pejabat Barat pertama yang mundur dan bertanggung jawab atas kekacauan antara pengambilalihan Kabul oleh Taliban pada 15 Agustus dan penarikan pasukan AS pada 31 Agustus.

Pengunduran diri mereka terjadi setelah Dominic Raab dari Inggris dicopot dari posisinya sebagai Menteri Luar Negeri. Raab dicopot usai caranya menangani situasi di Afghanistan mendapat kritik.

Dampak pengunduran diri dua menteri ini pada sistem politik Belanda dapat dibatasi karena kabinet saat ini adalah pemerintahan sementara. Negara tersebut masih menunggu pembicaraan untuk menghasilkan pemerintahan koalisi baru 6 bulan setelah pemilihan.

Sebelumnya, Pemerintah Belanda akan menghentikan penerbangan evakuasi dari bandara Kabul, Afghanistan, mulai Kamis (26/8) waktu setempat. Belanda mengakui penghentian evakuasi ini sebagai 'momen menyakitkan' karena berarti akan meninggalkan sejumlah orang di Afghanistan, yang kini dikuasai kelompok Taliban.

Seperti dilansir AFP, Kamis (26/8), Belanda menyatakan telah diinstruksikan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) untuk meninggalkan Afghanistan sebelum batas waktu penarikan tentara AS pada 31 Agustus. Belanda mengimbau orang-orang untuk menghindari bandara Kabul karena alasan keamanan.

"Belanda telah diberitahu hari ini oleh Amerika Serikat bahwa mereka harus pergi dan kemungkinan akan mengoperasikan penerbangan terakhir hari ini," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Pertahanan Belanda kepada parlemen.

"Ini adalah momen menyakitkan karena itu berarti terlepas semua upaya hebat selama beberapa waktu terakhir, orang-orang yang memenuhi syarat untuk dievakuasi ke Belanda akan tertinggal," sebut Menteri Luar Negeri Sigrid Kaag dan Menteri Pertahanan Ank Bijleveld dalam pernyataan gabungan.

(haf/haf)