3 Mantan Agen Intelijen AS Akui Bantu Meretas untuk UEA

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 11:05 WIB
A magnifying glass is held in front of a computer screen in this file picture illustration taken in Berlin May 21, 2013. Hackers broke into U.S. government computers, possibly compromising the personal data of 4 million current and former federal employees, and investigators were probing whether the culprits were based in China, U.S. officials said on June 4, 2015. REUTERS/Pawel Kopczynski/Files
Ilustrasi (dok. Pawel Kopczynski/REUTERS)

Target spesifik dari operasi peretasan ini tidak disebutkan lebih lanjut oleh Departemen Kehakiman AS. Namun, laporan media menyebut targetnya ada di dalam maupun di luar UEA.

Metode operasi peretasan itu dilaporkan terdiri atas mengunggah malware dan mengeksploitasi kerapuhan software serta hardware untuk membobol dan menguasai server, telepon genggam dan perangkat digital lainnya.

Jaksa AS, seperti dilaporkan CNN, mendakwa ketiganya memodifikasi komputer yang dieksplotasi 'menjadi sistem peretasan rahasia untuk badan pemerintah UEA' dan mencuri informasi pribadi dari orang-orang di seluruh dunia. Layanan pengumpulan intelijen yang dilakukan ketiga terdakwa disebut mencakup alat peretasan canggih yang bisa menginfeksi perangkat seluler tanpa penggunanya harus meng-klik apapun.

Selain membayar denda, ketiga terdakwa juga dilucuti izin keamanan AS yang dimiliki, dilarang dari komunitas intelijen AS dan dilarang melakukan peretasan.

"FBI akan menyelidiki individu dan perusahaan yang diuntungkan dari aktivitas kriminal siber ilegal ini," tegas Direktur Biro Penyelidikan Federal (FBI), Bryan Vorndran.


(nvc/idh)