Lagi, Lebih dari 100 Orang Dievakuasi dari Afghanistan

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 11 Sep 2021 13:53 WIB
Taliban izinkan 200 warga sipil AS dan negara lainnya tinggalkan Afghanistan. Ratusan warga sipil itu diterbangkan dari bandara Kabul Kamis (9/9) waktu setempat
Ilustrasi (dok. AP Photo/Bernat Armangue)
Kabul -

Pesawat charter yang membawa lebih dari 100 warga negara Afghanistan dan warga negara asing diperbolehkan terbang meninggalkan Afghanistan pada Jumat (10/9) waktu setempat. Ini merupakan penerbangan kedua setelah 100 orang lainnya diterbangkan dari bandara Kabul pada Kamis (9/9) waktu setempat.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (11/9/2021), pekan ini, penerbangan charter yang membawa warga Afghanistan dan warga negara asing mendapatkan izin dari Taliban untuk terbang keluar negara itu. Ini menjadi momen pertama setelah proses evakuasi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) berakhir pada 31 Agustus lalu.

Dari 158 penumpang yang tiba di Doha, Qatar, pada Jumat (10/9) malam waktu setempat, terdapat 49 warga negara Prancis bersama keluarga mereka. Seorang pejabat Qatar yang enggan disebut namanya menambahkan bahwa dalam penerbangan charter itu juga terdapat warga Jerman, Kanada, Belanda, Inggris, Belgia dan Mauritania.

Pejabat itu menambahkan bahwa orang-orang itu dibawa ke bandara Kabul dalam konvoi Qatar yang telah dikoordinasi oleh otoritas Qatar, yang menjadi titik transit untuk separuh dari 123.000 orang yang sebelumnya dievakuasi oleh negara-negara Barat sejak pertengahan bulan lalu usai Taliban berkuasa.

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Emily Home, menyebut 32 warga AS dan permanent resident AS telah meninggalkan Afghanistan sepanjang Jumat (10/9) waktu setempat, baik via udara dengan penerbangan Qatar Airways maupun via jalur darat.

"Keberangkatan hari ini menunjukkan bagaimana kita memberikan opsi jelas dan aman bagi warga Amerika untuk meninggalkan Afghansitan dari lokasi berbeda," sebut Home dalam pernyataannya.

"Kami akan terus memberikan opsi yang terjamin untuk pergi. Terserah kepada warga Amerika yang masih tinggal apakah akan memilih untuk mengambilnya," imbuhnya.