International Updates

Taliban Perintahkan Mahasiswi Afghanistan Pakai Niqab, Kudeta di Guinea

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 17:32 WIB
Taliban fighters patrol as two Traffic policemen stand, left, in Kabul, Afghanistan, Thursday, Aug. 19, 2021. The Taliban celebrated Afghanistans Independence Day on Thursday by declaring they beat the United States, but challenges to their rule ranging from running a country severely short on cash and bureaucrats to potentially facing an armed opposition began to emerge. (AP Photo/Rahmat Gul)
kelompok Taliban (Foto: AP/Rahmat Gul)

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (6/9/2021), langkah untuk melonggarkan pembatasan mulai Rabu (8/9) ini terjadi setelah kasus COVID-19 harian nasional melebihi 20.000 kasus selama tiga hari terakhir - dua kali lipat jumlahnya dari awal lockdown terbaru - membebani banyak rumah sakit karena mereka bergulat dengan kekurangan perawat.

- Fakta Soal Guinea yang Dikudeta Militer Gegara Jabatan Presiden 3 Periode

Militer Guinea merebut kekuasaan dalam kudeta dan menangkap Presiden Alpha Conde. Kudeta di Guinea, yang merupakan salah satu negara termiskin di Afrika Barat meskipun kaya akan sumber daya alam, terjadi setelah ada amandemen konstitusi pada 2020 yang memungkinkan presiden menjabat 3 periode.

Dilansir dari AFP, kudeta tersebut dilakukan oleh Pasukan khusus Guinea pada Minggu (5/9) dan langsung memberlakukan jam malam. Mereka juga membubarkan konstitusi.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (6/9/2021), berikut fakta-fakta tentang Guinea:

- Rezim otoriter -
Bekas koloni Prancis itu adalah satu-satunya negara berbahasa Prancis di benua Afrika yang pada tahun 1958 menolak komunitas Prancis-Afrika yang diusulkan oleh Presiden Prancis Charles de Gaulle.

- Taliban Perintahkan Mahasiswi Pakai Abaya-Niqab, Kelas Dipisah

Taliban memerintahkan para wanita yang kuliah di universitas swasta Afghanistan untuk mengenakan abaya dan niqab, yang menutupi sebagian besar wajah. Kelas pun harus dipisahkan berdasarkan jenis kelamin -- atau setidaknya dipisah dengan tirai.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Senin (6/9/2021), dalam dokumen panjang yang dikeluarkan oleh otoritas pendidikan Taliban, mereka juga memerintahkan agar siswa perempuan hanya diajar oleh dosen perempuan, tetapi jika itu tidak memungkinkan maka "pria tua" yang berkarakter baik bisa menjadi dosen.

Dekrit itu berlaku untuk perguruan tinggi dan universitas swasta, yang telah menjamur sejak pemerintahan pertama Taliban berakhir pada 2001.

Selama periode itu, kaum perempuan sebagian besar tak bisa bersekolah karena aturan tentang kelas sesama jenis dan desakan mereka harus ditemani oleh kerabat laki-laki setiap kali mereka meninggalkan rumah.


(ita/ita)