Diduga Propaganda, Belasan Situs Berita Rusia Diblokir di Ukraina

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 05:16 WIB
A background from many historic typographical letters in black and white with white background.
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Kiev -

Ukraina memblokir situs beberapa media terkemuka Rusia. Pemblokiran dilakukan karena situs berita itu dianggap menyebarkan berita propaganda.

Dilansir AFP, Senin (23/8/2021) hubungan antar negara-negara bekas Soviet itu telah memburuk sejak Rusia mencaplok semenanjung Krimea pada 2014 lalu, serta mendukung separatis bersenjata di Ukraina Timur.

Ukraina dan sekutu Baratnya menuduh Kremlin mengirim pasukan dan senjata untuk memperkuat separatis. Ukraina juga mengatakan Rusia memanfaatkan media sebagai alat propaganda untuk memicu konflik.

Sebuah dekrit dari Presiden Volodymyr Zelensky yang diterbitkan Minggu waktu setempat memerintahkan situs web 12 organisasi media Rusia diblokir di Ukraina. Keputusan itu juga memerintahkan rekening bank lokal organisasi untuk dibekukan.

Situs berita yang diblokir itu termasuk harian bisnis Vedomosti, yang baru-baru ini diambil alih oleh editor yang ramah pada Kremlin, dan surat kabar Moskovsky Komsomolets.

Kremlin mengkritik langkah pemblokiran itu. Serta menggambarkan Ukraina berada di jalur menuju "kebebasan berbicara yang mencekik" dan membatasi informasi yang "tidak diinginkan dan tidak nyaman".

Kepala Persatuan Jurnalis Rusia, Vladimir Soloviev mengatakan langkah itu sebagai "pembersihan akhir" media Rusia di Ukraina.

Akan tetapi pemimpin redaksi Moskovsky Komsomolets Pavel Gusev mengatakan keputusan itu tidak akan berdampak pada pekerjaan biro Ukraina "dengan cara apa pun".

"Ada cara modern untuk melewati pembatasan ini, jika perlu," katanya kepada kantor berita Rusia, Interfax.

Tindakan tersebut hanyalah gelombang terbaru dari hukuman yang dijatuhkan Ukraina terhadap perusahaan dan pengusaha Rusia. Pada bulan Juni lalu, Kiev memberlakukan sanksi terhadap belasan individu dan perusahaan yang memiliki hubungan dengan sektor pertahanan Rusia.

Ukraina pada Februari memblokir tiga saluran televisi pro-Rusia dalam sebuah langkah yang menurut kepresidenan ditujukan untuk mencegah propaganda Kremlin.

Sekitar 40 juta orang Ukraina sebagian besar bilingual dan sebagian besar orang yang tinggal di timur negara itu, tempat pertempuran terkonsentrasi, menggunakan bahasa Rusia sebagai bahasa pertama.

Konflik antara tentara Kiev dan separatis yang didukung Rusia telah merenggut lebih dari 13.000 nyawa. Militer Ukraina mengatakan bahwa salah satu tentaranya tewas dalam serangan dari wilayah yang dikuasai separatis selama 24 jam terakhir.

Secara terpisah, dinas keamanan FSB Rusia mengumumkan telah menahan seorang warga negara Ukraina yang dikatakan sedang mengumpulkan informasi rahasia tentang sistem senjata baru.

Lihat juga video 'Rusia Sambut Positif Niat Taliban Bangun Pemerintahan Afganistan':

[Gambas:Video 20detik]



(lir/lir)