Round-Up

Nasib Busana Wanita Afghanistan Kini di Tangan Dewan Ulama Taliban

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 19 Agu 2021 22:03 WIB
KALAKAN,  AFGHANISTAN - FEBRUARY 23:  Afghan women wait in line to be treated at the Kalakan health clinic February 23,2003 in Kalakan, Afghanistan.  (Photo by Paula Bronstein/Getty Images)
Ilustrasi (Getty Images/Paula Bronstein)
Kabul -

Hak perempuan dalam berbusana menjadi perhatian tatkala Taliban kembali berkuasa. Soalnya dulu, Taliban pernah mewajibkan wanita memakai burqa yang menutupi seluruh tubuh perempuan termasuk wajah. Nasib busana wanita Afghanistan akan ditentukan lewat keputusan para ulama Taliban.

"Mereka akan memutuskan apakah mereka harus memakai hijab, burqa, atau hanya cadar plus abaya atau sesuatu, atau tidak. Itu tergantung pada mereka," kata salah satu pemimpin senior Taliban, Waheedullah Hashimi, kepada Reuters, Kamis (19/8).

Secara umum, hijab adalah kain yang digunakan untuk menutupi aurat sehingga bagian tubuhnya tidak terlihat. Burqa, atau burka dalam Bahasa Indonesia, adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh serta wajah, bagian mata ditutup kawat kasa agar dapat melihat, biasanya dikenakan muslimah Afghanistan, Pakistan, dan India Utara, demikian definisi dari KBBI V.

Bamyian city, Bamyian Province, Afghanistan - November 14, 2010: Four Afghan women in blue and black burqa walking on dirt path in barren landBamyian city, Bamyian Province, Afghanistan - November 14, 2010: Four Afghan women in blue and black burqa walking on dirt path in barren land Foto: Getty Images/christophe_cerisier

Cadar adalah kain yang menutupi seluruh tubuh termasuk kepala dan wajah, kecuali mata. Abaya adalah busana khas Arab, berwarna hitam dan berpotongan longgar serta panjang, dikenakan sebagai baju luar ketika berada di luar rumah.

"Orang-orang di Afghanistan 99,99% adalah Muslim dan mereka percaya pada Islam. Ketika Anda mempercayai hukum, tentu saja Anda harus menerapkan hukum itu. Kami memiliki sebuah dewan, sebuah dewan ulama yang sangat terkemuka. Mereka akan memutuskan apa yang harus dilakukan," kata Waheedullah Hashimi.

Pada Selasa (17/8) waktu setempat, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyatakan dalam konferensi pers di Kabul bahwa perempuan akan diizinkan untuk bekerja dan mengakses pendidikan, dan 'akan sangat aktif dalam masyarakat namun dalam kerangka Islam'.

Saat menguasai Afghanistan tahun 1996-2001 silam, Taliban melarang wanita bekerja dan anak perempuan tidak diperbolehkan bersekolah, serta mewajibkan wanita memakai burqa saat pergi keluar rumah dan didampingi oleh kerabat laki-laki mereka. Mereka yang melanggar aturan terkadang mengalami penghinaan dan pemukulan di depan umum oleh polisi syariah Taliban.

Selanjutnya, janji Taliban: