Rezim Taliban di Masa Lalu: Bantai Warga Sipil hingga Batasi Peran Wanita

ADVERTISEMENT

Rezim Taliban di Masa Lalu: Bantai Warga Sipil hingga Batasi Peran Wanita

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 18 Agu 2021 10:55 WIB
Taliban Berjanji Membentuk Pemerintahan Islami yang Inklusif di Afghanistan
Taliban Berjanji Membentuk 'Pemerintahan Islami yang Inklusif' di Afghanistan (ABC Australia)
Kabul -

Taliban berhasil menguasai pemerintahan Afghanistan. Taliban berjanji akan menjalankan pemerintahan yang berbeda dengan Taliban di masa lalu. Taliban di masa lalu terkenal akan berbagai kasus pembantaian warga sipil dan pembatasan peran wanita.

Dikutip dari buku 'Inside The Jihad' yang ditulis Omar Nasiri, yang diduga mata-mata di Al-Qaeda, Taliban merupakan gerakan fundamentalis Islam yang lahir di Afghanistan pada 1994. Taliban kemudian berhasil mengambil alih kota Kabul pada 1996 dari tangan pemerintahan Burhanuddin Rabbani.

Taliban berjanji akan menciptakan ketertiban sosial dan menyelesaikan kasus korupsi di negara yang morat-marit akan perang saudara itu. Taliban saat itu terkenal dengan slogan Islam Huwa al-Hall (Islam adalah solusi).

Taliban mendapat dukungan awal dari penduduk etnis Pashtun di selatan Afghanistan, kecuali wilayah bagian utara yang tetap berada di bawah kendali Aliansi Utara.

Rezim Taliban pun menuai kritik internasional dan sanksi dari PBB atas pelanggaran HAM, pembatasan ketat atas peran wanita dalam kehidupan sosial. dan dukungan bantuan dalam menyembunyikan pemimpin organisasi teroris, Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Genosida hingga Pembatasan Peran Perempuan

Dikutip dari buku 'Pengantar Dasar Kajian Terorisme Abad 21' yang ditulis Syarifurohmat Pratama Santoso, selama pendudukan Taliban dari 1996 hingga 2001, mereka dan sekutunya telah membantai warga sipil hingga menyabotase pasokan makanan dari PBB untuk 160 ribu warga sipil yang kelaparan.

Taliban juga melakukan kebijakan 'bumi hangus', yakni membakar wilayah luas tanah subur dan menghancurkan puluhan ribu rumah.

Taliban pun terlibat dalam genosida budaya. Misalnya seperti menghancurkan banyak monumen keagamaan, termasuk patung Buddha Bamuyan yang telah berumur 1.500 tahun. Selain itu, Taliban jadi tempat pelatihan para teroris.

Sementara itu, seperti dilansir BBC, Taliban juga pernah memperkenalkan atau mendukung hukuman yang sejalan dengan penafsiran mereka akan hukum Syariah, seperti eksekusi di depan umum terdakwa pembunuhan dan pezina (rajam) dan potong tangan bagi mereka yang diputuskan bersalah karena pencurian.

Para pria diharuskan menumbuhkan jenggot, sedangkan para perempuan diwajibkan mengenakan burka yang menutup seluruh tubuh.

Taliban melarang televisi, musik, dan bioskop, juga tidak memperbolehkan anak perempuan di atas sepuluh tahun bersekolah. Akibat semua aturan ini, Taliban dituduh melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan budaya.

Simak Video: Sorotan WHO soal Sistem Kesehatan Afghanistan di Tengah Konflik

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT