Eks Penasihat Ungkap PM Inggris Anggap Enteng Pandemi Corona

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 21 Jul 2021 14:44 WIB
Dominic Cummings, senior aide to Prime Minister Boris Johnson, makes a statement inside 10 Downing Street, London, Monday May 25, 2020, over allegations he breached coronavirus lockdown restrictions. In an exceptionally rare televised statement, Cummings gave a detailed account of his movements in late March and early April, which have caused an intense political storm. (Jonathan Brady/Pool via AP)
Dominic Cummings, mantan penasihat PM Inggris, Boris Johnson, menuduh sang PM mengentengkan pandemi Corona (Jonathan Brady/Pool via AP)

Cummings juga menyebut bahwa Johnson berulang kali mengecam lockdown pertama di Inggris mulai Maret 2020 sebagai 'bencana'.

Pemerintah Inggris diketahui mencabut banyak pembatasan Corona pada musim panas tahun 2020 termasuk membuka kembali toko-toko non-esensial, dan mendorong warganya untuk makan di luar demi membantu restoran-restoran setempat. Namun saat kasus Corona dan angka rawat inap melonjak saat musim panas, lockdown kedua diberlakukan mulai 31 Oktober 2020.

Cummings meringkas sikap Johnson pada saat itu sebagai: "Ini mengerikan tapi orang-orang yang sekarat pada dasarnya berusia di atas 80 tahun dan kita tidak bisa mematikan ekonomi hanya karena orang-orang di atas 80 tahun yang sekarat."

Saat ditanya apakah klaim Cummings benar, juru bicara PM Inggris secara datar menjawab 'Tidak'. Dia juga bersikeras menyatakan bahwa Johnson telah 'dibimbing oleh saran ilmiah terbaik' sepanjang pandemi Corona.

Secara terpisah, Menteri Urusan Bisnis, Paul Scully, menuturkan kepada radio BBC bahwa: "Perdana Menteri memiliki beberapa keputusan yang sangat sulit untuk diambil. Kami ingin melindungi rakyat, kami ingin menjaga orang-orang tetap aman... tapi itu harus diimbangi dengan mata pencaharian rakyat."

Johnson diketahui banyak dihujani kritikan sepanjang pandemi, dengan angka kematian Corona di Inggris naik menjadi yang terburuk di kawasan Eropa. Awal pekan ini dia secara kontroversial memutuskan untuk melanjutkan pelonggaran seluruh pembatasan Corona di Inggris, meskipun ada lonjakan kasus.

Ditambahkan Cummings bahwa dirinya sempat membahas kemungkinan melengserkan Johnson setelah kemenangan pemilu Desember 2019, karena pengaruh pasangan Johnson, Carrie, yang dinilai terlalu kuat.

"Bahkan sebelum pertengahan Januari kami menggelar rapat di Number 10 (kantor PM Inggris-red) yang menyatakan jelas bahwa Carrie ingin menyingkirkan kami semua. Pada saat itu kami sudah mengatakan bahwa pada musim panas antara kita semua pergi dari sini atau kita ada dalam proses berupaya menyingkirkannya (Johnson-red)," ucap Cummings menurut transkrip yang dirilis BBC.


(nvc/idh)