Lebanon Dilanda Krisis Ekonomi Parah, Israel Tawarkan Bantuan

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 09 Jul 2021 15:11 WIB
People on their scooters and motorcycles wait in queue for gasoline in Beirut, Lebanon, Friday in Beirut, Lebanon, Wednesday, June 23, 2021. Lebanon is struggling amid a 20-month-old economic and financial crisis that has led to shortages of fuel and basic goods like baby formula, medicine and spare parts. The crisis is rooted in decades of corruption and mismanagement by a post-civil war political class. (AP Photo/Hussein Malla)
Antrean panjang warga yang membeli bahan bakar di tengah krisis ekonomi parah di Lebanon (AP Photo/Hussein Malla)

Tahun lalu, Israel menawarkan bantuan kemanusiaan setelah ledakan dahsyat mengguncang pelabuhan Beirut hingga menewaskan lebih dari 200 orang. Tawaran bantuan dari Israel saat itu ditolak oleh Lebanon.

Lebanon diperkirakan akan kembali menolak tawaran bantuan Israel.

Tawaran bantuan Israel ini disampaikan saat Lebanon tengah menghadapi serangkaian kekurangan dan kelangkaan kebutuhan pokok, termasuk bahan bakar, dengan pemerintahan sementara negara itu membahas pencabutan subsidi yang tidak bisa lagi dibayarkan untuk rakyat.

Bank Dunia menyebut krisis ekonomi di Lebanon sebagai krisis keuangan terparah di dunia sejak tahun 1850-an.

Mata uang Pound Lebanon kehilangan lebih dari 90 persen nilainya dan lebih dari separuh populasi Lebanon terjerumus ke dalam kemiskinan. Warga Lebanon juga hanya mendapatkan pasokan listrik kurang dari lima jam setiap harinya di sebagian besar wilayah negara ini, yang berjuang mendapatkan impor bahan bakar.

Rumah-rumah sakit setempat juga memperingatkan bahwa pemadaman listrik memperburuk situasi pandemi virus Corona (COVID-19) dan kekurangan bahan bakar berdampak parah pada sektor kesehatan.

Lebanon tidak memiliki pemerintahan yang jelas sejak pemerintahan sebelumnya mengundurkan diri usai ledakan dahsyat tahun lalu. Lebanon kini dikuasai pemerintahan sementara karena faksi politik di negara itu gagal mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan baru.

Pekan ini, Perdana Menteri (PM) sementara Lebanon, Hassan Diab, menyerukan kepada komunitas internasional untuk menyelamatkan negaranya dari kematian dan kehancuran.


(nvc/ita)