Dinkes soal Varian Corona di DKI: Alpha-Delta Cepat Menular, Beta Mematikan

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Minggu, 04 Jul 2021 20:41 WIB
eorang seniman melukis mural di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Timur, Rabu (2/12/2020). Nantinya akan ada 100 tiang TOL yang akan dimural dengan gambar protokol kesehatan.
Ilustrasi terkait COVID-19 (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta melaporkan saat ini ada tiga mutasi virus Corona yang paling banyak ditemukan di Jakarta yakni Alpha, Beta, dan Delta. Dinkes DKI mengatakan ketiganya memiliki tingkat penularan yang variatif.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama awalnya menjelaskan pihaknya secara rutin melakukan genome sequencing. Tujuannya untuk mendeteksi varian baru Corona.

"Dari PCR sequence lagi melihat mutasi virus. Karena saat ini ada ribuan mutasi virus di dunia, tapi variant of consent (VoC) ada 4. jadi terbukti lebih menular, mematikan dan lebih menurunkan efek vaksin. Di Jakarta atau di Indonesia itu baru ada 3 (yang utama)," kata Ngabila dalam diskusi virtual, Minggu (4/7/2021).

Ngabila mengatakan varian Delta 4 kali lebih menular dibandingkan varian biasa. Selain itu, orang yang terpapar varian baru ini lebih banyak dirawat di rumah sakit.

"Kalau Alpha dua kali menular dibanding varian biasa, kalau Delta 4 kali, dan dia lebih meningkatkan kemungkinan orang dirawat di rumah sakit itu yang Delta, kalau Alpha hanya cuma lebih nyebar aja," jelasnya.

Sedangkan untuk varian Beta disebut sebagai varian virus yang mematikan. Bahkan, salah satu pasien yang terpapar varian Beta di Jakarta harus menjalani perawatan intensif di RS.

"Kalau Beta dari Afrika Selatan ditemukan pertama, ini lebih mematikan. Beberapa kasus di Jakarta dan Bali, makanya di Bali meninggal ya, di Jakarta orang dirawat 1,5 bulan ICU orang ini kemudian selamat," ucapnya.

Data terbaru menunjukkan, 148 varian baru terdeteksi di Jakarta. Di mana, 40 persen anak usia 0-18 tahun terpapar varian virus Delta.

Ngabila mengungkapkan salah satu penyebab banyaknya anak-anak terpapar ialah rendahnya ketaatan prokes COVID-19. Selain itu, kecepatan penyebaran virus juga memicu lonjakan kasus.

"Kita periksa mutasi virusnya dan hasilnya 148 VoC Alpha, Beta dan Delta, dan 90 persen adalah varian delta yang mana sekitar 40 persennya anak-anak. Bayangin, anak usia di bawah 18 tahun sudah kena Delta di Jakarta," imbuhnya.

Atas hal ini, dia meminta warga Jakarta tak mengabaikan protokol kesehatan COVID-19. Meskipun, dia memastikan ketiga mutasi virus ini masih bisa diatasi dengan vaksinasi COVID-19.

"Virus makin pintar, makin ajaib, makin jenius, dan kita nya masih begini-begini saja, kita harus bermutasi juga, dengan cara 5M dan vaksinasi, jadi balik lagi tadi mutasi virus dengan yang luar biasa, ada kasus di Jakarta, kita tidak boleh abai," tegasnya.

(dhn/dhn)