Ciri COVID Varian Baru: Mulai Delta hingga Lambda yang Jadi Sorotan

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 30 Jun 2021 10:07 WIB
Novel coronavirus concept resposible for asian flu outbreak and coronaviruses influenza concept on background with flag of Peru
Ciri COVID Varian Baru: Dari Delta hingga Lambda yang Kini Jadi Sorotan/ilustrasi varian Delta (Getty Images/iStockphoto/Anton Litvintsev)
Jakarta -

Ciri COVID varian baru jadi pertanyaan banyak pihak usai muncul varian Delta hingga Lambda di sejumlah negara. Di Indonesia sendiri, varian Delta kini sudah masuk dan menyebabkan lonjakan kasus di DKI Jakarta, Kudus, hingga di Bangkalan.

Diketahui, kasus harian baru di Indonesia per Selasa (29/6/2021), berada di angka 20.467, sehingga menjadikan total kasus positif mencapai 2.156.465.

Ciri COVID Varian Baru: Delta

Varian Delta pertama kali ditemukan di India. Ahli epidemiologi asal Inggris melakukan penelitian soal varian baru tersebut dan menyebutnya sebagai varian B1617.2.

Mengutip dari Bloomberg, para dokter di India menyebut prevalensi masalah pencernaan dan ciri COVID varian baru Delta lainnya tampaknya lebih besar daripada yang disebabkan oleh virus COVID-19 awal. Namun dibutuhkan lebih banyak penelitian klinis untuk mengkonfirmasi temuan tersebut. Berikut ini sejumlah ciri yang perlu diwaspadai:

1. Demam
2. Sesak napas
3. Kelelahan
4. Nyeri otot atau tubuh
5. Sakit kepala
6. Kehilangan rasa atau bau (anosmia)
7. Sakit tenggorokan
8. Hidung tersumbat atau pilek
9. Mual atau muntah
10. Diare
11. Sakit perut
12. Kehilangan nafsu makan
13. Gangguan pendengaran
14. Pembekuan Darah
15. Gangren

Gangren adalah kondisi kematian jaringan tubuh akibat kekurangan aliran darah atau infeksi bakteri yang serius. Secara umum, gangren mempengaruhi lengan dan kaki, termasuk jari kaki dan jari tangan, namun juga dapat terjadi pada otot dan organ di dalam tubuh, seperti kantong empedu.

Ciri COVID Varian Baru: Lambda

Varian terbaru yang kembali jadi sorotan adalah kemunculan sebutan varian Lambda. Varian dengan nama resmi C37 ini memiliki berbagai mutasi yang perlu diwaspadai, seperti mutasi L452Q dan F490S.

"Mutasi F490S sebelumnya telah dikaitkan dengan penurunan kerentanan terhadap netralisasi antibodi," kata peneliti Priscila Wink dari Hospital de Clínicas de Porto Alegre di Rio Grande do Sul dan rekan-rekannya, dikutip dari Medical News.

Varian Lambda pertama kali teridentifikasi di Peru pada Agustus 2020. Varian ini kemudian menyebar diam-diam hingga mulai diungkap di Brasil pada Februari 2021.

Menurut Profesor Priscila Wink dari Hospital de Clínicas de Porto Alegre, varian baru ini diyakini menjadi penyebab tingginya kasus di Cile, Peru, Ekuador, Ekuador, dan Argentina.

Terkait ciri COVID varian baru Lambda, sebenarnya belum ada ciri spesifik yang membedakan dari varian lainnya. Menurut Public Health England (PHE), hingga saat ini tak ada bukti varian Corona tersebut dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Gejalanya pun serupa dengan virus Corona penyebab COVID-19 lainnya, seperti demam tinggi, batuk secara terus-menerus, dan kehilangan indra penciuman atau perasa.

(izt/imk)